Terobosan Baru: Deteksi Konsumsi Makanan Ultra-Proses Melalui Analisis Metabolomik

Para ilmuwan telah mengembangkan metode inovatif untuk mengukur konsumsi makanan ultra-proses (UPF) melalui analisis metabolit dalam sampel darah dan urine. Studi ini menjanjikan terobosan dalam studi nutrisi dan kesehatan masyarakat, menawarkan cara yang lebih akurat dan objektif untuk menilai dampak makanan olahan terhadap kesehatan.

Penelitian ini, yang dipimpin oleh tim dari National Cancer Institute, Amerika Serikat, menggunakan teknologi metabolomik canggih untuk menganalisis lebih dari seribu metabolit dalam sampel biologis. Makanan ultra-proses sendiri adalah produk industri yang mengalami pengolahan ekstensif, sering kali mengandung aditif seperti perasa buatan, pewarna, dan pemanis. Konsumsi makanan ultra-proses telah lama dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan.

Selama ini, pengukuran konsumsi UPF bergantung pada laporan mandiri melalui kuesioner diet, yang rentan terhadap bias memori dan kurangnya kesadaran. Metode baru ini mengatasi keterbatasan tersebut dengan menggunakan skor metabolit—kombinasi biomarker dalam darah dan urine—yang berkorelasi kuat dengan tingkat konsumsi UPF. Peneliti menggunakan metode statistik Least Absolute Shrinkage and Selection Operator (LASSO) untuk mengidentifikasi skor metabolit ini dari 718 peserta studi IDATA (Interactive Diet and Activity Tracking in AARP).

"Dengan pendekatan ini, kita dapat menentukan seberapa banyak seseorang mengonsumsi makanan ultra-proses berdasarkan hasil laboratorium, tanpa harus bergantung pada data yang dilaporkan sendiri," kata Dr. Erikka Loftfield, peneliti utama studi tersebut.

Efektivitas skor metabolit ini kemudian diuji dalam uji coba crossover-feeding yang melibatkan 20 orang dewasa sehat. Para peserta menjalani dua pola makan yang berbeda: satu dengan 80 persen energi berasal dari UPF dan yang lainnya tanpa UPF. Hasilnya menunjukkan bahwa skor metabolit secara konsisten membedakan kedua pola makan tersebut pada individu yang sama, yang menunjukkan potensinya sebagai indikator objektif konsumsi UPF.

Analisis metabolit mengungkapkan hubungan yang menarik antara konsumsi UPF dan kesehatan. Misalnya, kadar N6-carboxymethyllysine, metabolit yang meningkat dengan konsumsi UPF yang tinggi, sebelumnya dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2 dan penyakit jantung. Sebaliknya, metabolit yang terkait dengan konsumsi buah dan sayur, seperti β-cryptoxanthin, ditemukan lebih rendah pada individu yang mengonsumsi banyak UPF.

"Temuan ini semakin memperkuat hubungan antara makanan ultra-proses dan penurunan kualitas pola makan serta peningkatan risiko penyakit kronis," kata Loftfield.

Peneliti menekankan bahwa meskipun hasil penelitian ini menjanjikan, diperlukan validasi lebih lanjut pada kelompok populasi yang lebih beragam. Studi saat ini terutama melibatkan peserta yang lebih tua dan homogen. Studi di masa depan harus mencakup kelompok usia dan etnis yang lebih luas untuk memastikan generalisasi skor metabolit.

Terlepas dari keterbatasan ini, para ilmuwan optimis bahwa metode baru ini akan merevolusi studi nutrisi dan kesehatan masyarakat. Dengan menyediakan cara yang lebih akurat dan objektif untuk mengukur konsumsi UPF, ini dapat membantu mengidentifikasi efek kesehatan dari makanan olahan dan mengembangkan strategi yang ditargetkan untuk meningkatkan pola makan dan mengurangi risiko penyakit kronis. Kedepan skor metabolit ini dapat digunakan sebagai alat bantu untuk memperbaiki akurasi data diet dalam riset epidemiologi.