Perjuangan Seorang Ibu di Banyuwangi Menghadapi Epilepsi Putrinya: Dari Pengobatan Alternatif hingga Kesembuhan

Perjuangan Seorang Ibu di Banyuwangi Menghadapi Epilepsi Putrinya: Dari Pengobatan Alternatif hingga Kesembuhan

Di sebuah rumah sederhana bernuansa ungu di Lingkungan Klucing, Kelurahan Giri, Banyuwangi, Jawa Timur, Tri Handayani (37) menjalani kehidupan yang penuh tantangan. Ibu dua anak ini berjuang keras untuk kesembuhan putrinya, Aishiva Azzalfa Ufaira (11), yang menderita epilepsi. Perjalanan panjang Tri untuk mendapatkan pengobatan yang tepat bagi Aishiva menjadi cerminan kegigihan seorang ibu dalam menghadapi cobaan hidup.

Perjalanan Tri dimulai sejak Aishiva masih bayi. Kejang-kejang yang dialami Aishiva pada usia lima bulan, yang diduga akibat salah pijat, menjadi titik awal penderitaan keluarga ini. Kekurangan pengetahuan dan keterbatasan akses informasi membuat Tri awalnya memilih pengobatan alternatif, membawa putrinya dari satu tukang pijat ke tukang pijat lain. Meskipun intensitas kejang berkurang, penyakit ini tetap menghantui kehidupan Aishiva. Setelah bertahun-tahun menjalani pengobatan alternatif tanpa hasil signifikan, Tri akhirnya mendapatkan rujukan ke dokter anak, kemudian dokter spesialis saraf.

Di rumah sakit, Tri disarankan untuk melakukan EEG (elektroensefalogram) – pemeriksaan medis untuk mendeteksi aktivitas listrik otak. Namun, kendala biaya membuat Tri terpaksa menunda pemeriksaan dan memilih pengobatan dengan obat-obatan. Situasi ini semakin diperparah dengan tindakan bullying yang dialami Aishiva di sekolah, yang memicu kambuhnya epilepsi hingga empat kali sehari. Stres dan rasa takut yang dialami Aishiva menjadi pemicu utama serangan epilepsi. Kondisi ini pun berdampak pada kondisi psikis Tri dan keluarganya.

Setelah mengumpulkan cukup dana, Tri akhirnya memutuskan untuk melakukan EEG. Hasilnya menunjukkan kebutuhan terapi obat yang harus rutin dikonsumsi Aishiva. Berkat pengobatan yang tepat dan perawatan intensif, kini kondisi Aishiva membaik signifikan. Hasil EEG terakhir pada Januari 2025 menunjukkan gelombang otak Aishiva telah normal, dan dosis obat pun dapat dikurangi secara bertahap. Meskipun rasa was-was masih menghantui, Tri tetap optimis dan berjuang untuk menjaga kondisi putrinya agar tetap stabil.

Perjuangan Tri tidak hanya sebatas pengobatan medis. Ia juga berupaya untuk memahami penyakit putrinya dengan mempelajari informasi dari internet dan buku-buku. Ia mempelajari cara berkomunikasi yang tepat dengan Aishiva, termasuk menghindari kata-kata yang dapat memicu stres. Ia juga selalu mendampingi Aishiva, memberikan dukungan moral dan kasih sayang. Dukungan Tri kepada Aishiva juga terlihat dari kesediaannya untuk memenuhi hobi putrinya, seperti menggambar, meskipun terkadang hasil gambar Aishiva seringkali dirusak tanpa sebab.

Tri juga bercerita tentang tantangan yang dihadapi ketika menghadapi pandangan masyarakat terhadap anaknya. Ia seringkali mendapat tatapan aneh dan perbandingan yang menyakitkan antara Aishiva dengan adiknya yang sehat. Meskipun terkadang merasa sedih dan ingin menangis, Tri memilih untuk tegar dan tetap berfokus pada kesejahteraan putrinya. Ia berharap agar masyarakat lebih memahami dan tidak menghakimi penderita epilepsi.

Sebagai penutup, Tri memberikan pesan penting kepada para ibu yang memiliki anak dengan kondisi serupa: segera konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat. Ia juga menekankan pentingnya dukungan keluarga dan masyarakat dalam membantu penderita epilepsi agar dapat menjalani kehidupan yang normal. Tri juga menyampaikan rasa syukur atas bantuan BPJS Kesehatan yang telah meringankan beban biaya pengobatan putrinya, sekaligus berharap agar pemerintah terus meningkatkan layanan kesehatan.

Tri Handayani adalah contoh nyata seorang ibu yang penuh kasih sayang, kegigihan, dan ketabahan dalam menghadapi tantangan hidup. Kisahnya menjadi inspirasi bagi kita semua untuk selalu berjuang dan tidak pernah menyerah dalam menghadapi kesulitan. Ia membuktikan bahwa dengan ketekunan, kesabaran, dan dukungan, setiap tantangan dapat diatasi.