Bencana Banjir dan Longsor di Sukabumi: Lima Tewas, Ribuan Jiwa Terdampak

Bencana Banjir dan Longsor di Sukabumi: Lima Tewas, Ribuan Jiwa Terdampak

Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, kembali dilanda bencana alam berupa banjir dan longsor yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian material yang signifikan. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, bencana yang terjadi pada Senin, 10 Maret 2025, telah mengakibatkan lima orang meninggal dunia dan empat orang lainnya masih dinyatakan hilang. Ribuan warga juga terdampak, dengan total 4.500 jiwa yang merasakan dampak langsung dari bencana ini. Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut memicu peningkatan volume air sungai dan mengakibatkan tanah longsor di berbagai titik rawan.

Dampak bencana ini meluas hingga ke 19 lokasi di 10 desa yang tersebar di tiga kecamatan, yakni Simpenan, Palabuhanratu, dan Lengkong. Sebanyak 1.424 kepala keluarga (KK) terdampak langsung, dengan rincian 83 KK atau 246 jiwa harus mengungsi dan 142 KK atau 474 jiwa berada dalam kondisi rawan, terancam bahaya susulan jika hujan deras kembali terjadi. Manajer Pusdalops BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna, mengungkapkan bahwa tim SAR gabungan tengah melakukan pencarian intensif terhadap empat warga yang masih hilang, terdiri dari satu anak-anak dan tiga orang dewasa. Pencarian difokuskan pada titik-titik longsor yang tersebar di Kecamatan Lengkong dan Simpenan, mengingat medan yang sulit dan kondisi cuaca yang masih tidak menentu.

Identitas lima korban meninggal dunia telah berhasil diidentifikasi oleh pihak berwenang. Mereka adalah:

  • Eneng Santi (40 tahun) - Palabuhanratu
  • Siti Nurul Awalia (8 tahun) - Palabuhanratu
  • Nendi Saputra (7 tahun) - Desa Kertajaya, Kecamatan Simpenan
  • Ooy (69 tahun) - Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan
  • Yayar (70 tahun) - Desa Kertajaya, Kecamatan Simpenan

BPBD Kabupaten Sukabumi saat ini tengah fokus pada upaya penyelamatan dan evakuasi korban, penyaluran bantuan logistik kepada para pengungsi, serta penanganan dampak kerusakan infrastruktur. Pemerintah daerah juga telah menetapkan status tanggap darurat bencana untuk mempermudah koordinasi dan penyaluran bantuan dari berbagai pihak. Situasi di lapangan masih terus dipantau, dan masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan mengingat prediksi cuaca yang masih belum stabil.

Upaya pemulihan pasca bencana akan membutuhkan waktu dan kerjasama dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, lembaga kemanusiaan, hingga masyarakat luas. Dukungan dari semua pihak sangat diperlukan untuk meringankan beban para korban dan membantu proses pemulihan di wilayah terdampak.