Lulusan Pesantren Ukir Prestasi, Raih Peluang Kuliah di Tiga Universitas Terkemuka Dunia
Perjalanan inspiratif Azka Tazkiatunnafsi, seorang remaja putri berusia 18 tahun, membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih impian setinggi langit. Lahir di Yogyakarta pada 28 April 2007, Azka kini tengah bersiap untuk menapaki jenjang pendidikan tinggi di salah satu universitas ternama di Amerika Serikat, setelah berhasil diterima di tiga universitas bergengsi di Amerika Serikat dan Australia.
Kisah Azka dimulai di Yogyakarta, di mana ia menghabiskan masa kecil dan menimba ilmu di SD Model Ngemplak, Sleman. Selepas lulus SD, ia mengikuti jejak orang tuanya pindah ke Jakarta. Pendidikan menengah pertama ia selesaikan di MTSN 4 Jakarta Selatan. Sempat bercita-cita kembali ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan di SMA Negeri, namun terpaksa mengubur impian tersebut lantaran kurangnya persiapan dalam menghadapi Asesmen Standarisasi Pendidikan Daerah (ASPD).
"Karena kurang persiapan ASPD itu, saya nggak bisa lolos buat masuk SMA Negeri Yogya. Akhirnya saya ngikut saran ayah untuk mendaftar di SMA Sains Wahid Hasyim, akhirnya keterima di situ dan saya melanjutkan SMA di situ," ungkap Azka.
Kegagalan tersebut sempat membuatnya merasa terpukul dan kecewa karena harus bersekolah di pesantren, sebuah lingkungan yang berbeda dari ekspektasinya. Namun, Azka memilih untuk bangkit dan fokus pada pendidikan di SMA Sains Al-Quran Wahid Hasyim. Semangatnya untuk kuliah di luar negeri telah tumbuh sejak kecil, terinspirasi oleh tokoh-tokoh ternama yang menempuh pendidikan di universitas-universitas bergengsi dunia. Sejak saat itu ia bertekat untuk meraih cita-citanya.
Untuk mewujudkan impiannya, Azka berinisiatif belajar Bahasa Inggris secara otodidak sejak SMP. Dengan memanfaatkan berbagai sumber seperti film dan video pembelajaran berbahasa Inggris, ia secara konsisten meningkatkan kemampuan berbahasanya. Ketertarikannya pada bahasa Inggris mendorongnya untuk mencari video-video YouTube yang menjelaskan materi-materi sekolah dalam bahasa Inggris. Usaha keras dan dedikasinya membuahkan hasil yang membanggakan.
Azka berhasil diterima di empat universitas sekaligus, tiga di antaranya berlokasi di luar negeri, yaitu University of Illinois Urbana-Champaign (UIUC) di Amerika Serikat, University of Sydney, dan Australian National University. Selain itu, ia juga diterima di Universitas Indonesia (UI). Setelah mempertimbangkan berbagai faktor, Azka akhirnya memilih UIUC karena ketertarikannya pada program studi Sustainable Design dan reputasi universitas tersebut di bidang arsitektur.
Azka dijadwalkan berangkat ke Amerika Serikat pada Agustus 2025 untuk mengikuti orientasi kampus. Untuk dapat diterima di universitas-universitas luar negeri tersebut, Azka harus melalui proses seleksi yang ketat, termasuk menulis esai yang menjadi faktor penentu dalam aplikasi. Ia mendaftar melalui platform Common App dan memanfaatkan bantuan dari BIM (Beasiswa Indonesia Maju) untuk mendapatkan konseling mengenai esainya.
Orang tua Azka turut berperan aktif dalam mendukung impian putrinya. Mereka mencari informasi tentang beasiswa dan menemukan Beasiswa Indonesia Maju (BIM) yang memberikan bantuan finansial yang sangat berarti. Berkat dukungan dari berbagai pihak, Azka berhasil meraih beasiswa Garuda dari Kemendikti Saintek, yang akan menanggung seluruh biaya kuliahnya selama empat tahun di Amerika Serikat.
Menjelang keberangkatannya, Azka terus mempersiapkan diri dengan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang kehidupan dan perkuliahan di Amerika Serikat. Ia juga menjalin komunikasi dengan para senior dan alumni University of Illinois untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang pengalaman belajar di sana.
Kisah Azka Tazkiatunnafsi adalah bukti nyata bahwa dengan kerja keras, ketekunan, dan dukungan dari orang-orang terdekat, setiap orang dapat meraih impian setinggi mungkin, tanpa memandang latar belakang atau keterbatasan yang ada.