Debu Sisa Banjir Pantura Pasuruan Ancam Kesehatan Pengendara

Jalur Pantura Kota Pasuruan kembali dibuka setelah sebelumnya sempat terendam banjir kiriman. Namun, dampak lain dari bencana ini mulai dirasakan oleh para pengguna jalan. Debu tebal yang berasal dari sisa lumpur banjir kini menjadi masalah baru, mengganggu jarak pandang dan berpotensi menyebabkan gangguan pernapasan.

Para pengendara sepeda motor menjadi pihak yang paling rentan terpapar polusi debu ini. Mereka harus ekstra waspada saat melintas di sekitar jembatan Buk Wedi, titik yang paling parah terkena dampak debu. Banyak pengendara terpaksa menutup rapat kaca helm dan hidung untuk mengurangi paparan debu yang beterbangan akibat lalu lintas kendaraan yang padat dan berkecepatan tinggi. Kondisi ini diperparah dengan cuaca yang panas dan kering, membuat lumpur sisa banjir mengering dan mudah diterbangkan angin.

Widiawati, seorang pengguna jalan yang rutin melintasi jalur ini, mengaku harus selalu mengenakan masker untuk melindungi diri dari debu. Ia berharap agar pihak terkait segera mengambil tindakan untuk membersihkan sisa lumpur dan mengurangi dampak polusi debu. Panjang jalan yang terdampak debu mencapai sekitar 500 meter, sehingga cukup mengganggu dan mengancam kesehatan para pengguna jalan.

Banjir yang melanda jalur Pantura pada Senin malam lalu disebabkan oleh luapan sungai Buk Wedi di Kelurahan Blandongan. Air bercampur lumpur meluber ke jalan Ir. H. Juanda, menyebabkan kemacetan parah dan pengalihan arus lalu lintas. Meskipun banjir telah surut dan jalan sudah dapat dilalui, sisa lumpur yang mengering kini menjadi sumber masalah baru bagi para pengguna jalan.

Pihak BPBD Kota Pasuruan telah melakukan penyiraman jalan untuk membersihkan lumpur pada dini hari setelah banjir surut. Namun, fokus perhatian saat ini juga tertuju pada pencarian seorang balita yang hilang di sekitar sungai Gembong. Kondisi ini membuat penanganan polusi debu sisa banjir menjadi sedikit terhambat.