Pendiri Lonely Planet Mengungkap Alasan Keengganan Kembali ke Bali dan Beberapa Negara Lainnya
Tony Wheeler, tokoh di balik kesuksesan panduan wisata Lonely Planet, baru-baru ini membagikan daftar destinasi yang tidak lagi menarik minatnya untuk dikunjungi. Pengakuan ini ia sampaikan melalui blog pribadinya, menjawab rasa penasaran banyak orang mengenai tempat-tempat yang ia hindari, selain tempat-tempat favoritnya.
Salah satu destinasi yang menjadi sorotan adalah Bali. Meskipun mengakui keindahan alam dan kekayaan budaya Pulau Dewata, Wheeler mengungkapkan bahwa kemacetan lalu lintas yang parah menjadi alasan utama keengganannya untuk kembali. Ia secara terus terang menyatakan ketidaksediaannya untuk menghabiskan waktu berjam-jam terjebak dalam kemacetan antara Kuta dan Ubud.
Berikut adalah daftar lengkap destinasi yang dihindari Tony Wheeler:
- Bali: Kemacetan lalu lintas yang tak tertahankan menjadi alasan utama.
- Rusia: Keterlibatan Rusia dalam konflik internasional dan dukungan terhadap rezim yang kontroversial menjadi faktor penentu.
- Amerika Serikat: Kebijakan pemerintahan di bawah kepemimpinan mantan Presiden Donald Trump menjadi alasan boikot.
- Arab Saudi: Catatan hak asasi manusia yang buruk, termasuk kasus pembunuhan Jamal Khashoggi dan perlakuan terhadap pekerja migran, menjadi pertimbangan utama.
Wheeler juga menyoroti isu-isu spesifik yang mempengaruhi keputusannya untuk tidak mengunjungi negara-negara tersebut. Contohnya, terkait Rusia, ia menyinggung tragedi jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17 di Ukraina Timur, yang menewaskan ratusan orang, termasuk warga Australia. Sementara itu, untuk Arab Saudi, ia menyoroti laporan mengenai kekerasan terhadap pekerja rumah tangga dan praktik perdagangan hewan liar yang kejam.
Keputusan Wheeler untuk memboikot destinasi-destinasi ini mencerminkan keprihatinannya terhadap isu-isu global yang lebih luas, seperti hak asasi manusia, konflik internasional, dan kesejahteraan hewan. Hal ini menunjukkan bahwa pertimbangan etis semakin memainkan peran penting dalam keputusan perjalanan seseorang.
Meski demikian, Wheeler tidak menutup kemungkinan untuk mengunjungi kembali Bali di masa depan jika ada alasan yang sangat kuat yang mengharuskannya untuk datang. Namun, hingga masalah kemacetan teratasi, Bali tidak akan menjadi prioritas dalam daftar perjalanannya.