Jawa Tengah Prioritaskan Pendidikan Karakter Humanis, Tolak Model Pendisiplinan Militeristik untuk Pelajar

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengambil sikap berbeda terkait penanganan siswa bermasalah. Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mengikuti jejak Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang menerapkan program pelatihan militer bagi pelajar yang dianggap indisipliner.

Penegasan ini disampaikan Taj Yasin usai memimpin Apel Kesiapsiagaan Satpol PP, Satuan Linmas, dan Satuan Damkar tingkat Provinsi Jawa Tengah. Menurutnya, Jawa Tengah memiliki pendekatan tersendiri dalam membina karakter generasi muda.

"Kita kan ada aturannya, kita bukan negara yang siap perang kok. Kita sudah tahu kedisiplinan itu wajib. Di Jawa Tengah punya sekolah yang bekerja sama dengan militer dan mereka dilatih di sekolah," ujarnya.

Taj Yasin menekankan pentingnya menanamkan nilai-nilai ketertiban, kedisiplinan, dan kesadaran belajar pada diri siswa. Pendidikan karakter yang humanis, menurutnya, adalah fondasi utama dalam membentuk generasi muda yang berkualitas.

Ia juga menyoroti perbedaan kondisi sosial dan pendekatan yang relevan di setiap daerah. Oleh karena itu, perbandingan kebijakan antarprovinsi dinilai kurang tepat. Fokus utama, kata Taj Yasin, adalah menjalankan tugas masing-masing demi kesejahteraan masyarakat.

Kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang mengirimkan pelajar bermasalah ke barak militer telah memicu perdebatan di tingkat nasional. Ide yang digagas oleh Gubernur Jawa Barat itu bertujuan untuk mendisiplinkan siswa melalui pendidikan karakter ala militer, dengan persetujuan dari orang tua.

Namun, kebijakan tersebut menuai kritik dari berbagai pihak. Komnas HAM dan sejumlah aktivis pendidikan menganggap pendekatan militeristik melanggar hak anak dan tidak sesuai dengan prinsip pendidikan yang ideal. Mereka berpendapat bahwa pendidikan karakter seharusnya ditanamkan melalui sekolah dan keluarga, bukan melalui pelatihan militer.

Di sisi lain, ada sebagian masyarakat yang mendukung kebijakan tersebut. Mereka beranggapan bahwa pendidikan tegas ala militer dapat memberikan efek positif bagi siswa yang sulit diatur oleh orang tua.

Terlepas dari pro dan kontra yang ada, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memilih untuk tetap berpegang pada pendekatan pendidikan karakter yang humanis. Mereka meyakini bahwa dengan menanamkan nilai-nilai positif sejak dini, generasi muda akan tumbuh menjadi individu yang bertanggung jawab dan berkontribusi bagi bangsa.