Antisipasi Risiko Kebakaran Lanjutan Pasca-Pemusnahan Amunisi, Pembasahan Area Vital Disarankan
Tragedi ledakan amunisi kedaluwarsa di Garut, Jawa Barat, yang merenggut nyawa 13 orang, termasuk anggota TNI dan warga sipil, memicu sorotan tajam terhadap prosedur keamanan yang diterapkan dalam proses pemusnahan. Mengingat kompleksitas dan potensi bahaya yang melekat pada bahan peledak, evaluasi menyeluruh terhadap protokol yang ada menjadi krusial untuk mencegah insiden serupa di masa mendatang.
Seorang ahli investigasi kebakaran dan ledakan terkemuka di Indonesia, Adrianus Pangaribuan, menekankan pentingnya langkah antisipatif berupa pembasahan area pemusnahan setelah proses peledakan selesai. Tindakan ini bertujuan untuk meminimalisir risiko kebakaran lanjutan atau reignition yang mungkin timbul akibat sisa-sisa bahan peledak yang belum sepenuhnya bereaksi.
"Setelah peledakan selesai, idealnya dilakukan pembasahan menyeluruh untuk memastikan tidak ada potensi reignition," ujar Adrianus, menyoroti karakteristik unik bahan peledak yang tidak selalu bereaksi seragam saat diledakkan.
Menurutnya, beberapa jenis bahan peledak mungkin memerlukan proses pemanasan sebelum akhirnya menyala, sehingga meskipun peledakan awal tampak berhasil, risiko reignition tetap ada.
"Ada kemungkinan sebagian bahan peledak meledak saat peledakan pertama, sementara sisanya memerlukan pemanasan terlebih dahulu. Setelah mencapai suhu kritis, baru terjadi reignition," jelasnya.
Adrianus mengakui bahwa setelah peledakan dinyatakan selesai dan aman, area pemusnahan secara teoritis aman untuk didekati. Namun, ia tetap mengingatkan akan adanya risiko laten yang perlu diantisipasi. Ia meyakini bahwa TNI memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ketat dalam pemusnahan amunisi kedaluwarsa.
"Saya yakin TNI memiliki SOP yang komprehensif dalam pemusnahan amunisi yang sudah tidak layak pakai," tambahnya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Wahyu Yudhayana menjelaskan bahwa ledakan di Garut terjadi di salah satu lubang amunisi afkir. Ia menjelaskan kronologi kejadian, dimulai dengan pengecekan prosedur dan lokasi oleh jajaran Gudang Pusat Amunisi dan Pusat Peralatan TNI Angkatan Darat pada hari Senin (12/5/2025).
"Pada awal kegiatan, secara prosedur telah dilaksanakan pengecekan terhadap personel dan lokasi peledakan, dan semuanya dinyatakan aman," kata Wahyu dalam konferensi pers.
Tim penyusun amunisi dari TNI AD kemudian mempersiapkan pemusnahan di dua lubang sumur yang telah disiapkan. Setelah itu, tim ditempatkan di pos masing-masing untuk pengamanan. Peledakan amunisi afkir di kedua lubang sumur tersebut berhasil dilakukan tanpa kendala.
"Peledakan di dua sumur ini berjalan sempurna dan aman," ujar Wahyu.
Namun, insiden tragis terjadi saat tim penyusun amunisi menyusun detonator di lubang sumur yang diperuntukkan untuk menghancurkan detonator dan sisa-sisa amunisi tidak layak pakai. Ledakan tiba-tiba terjadi dari dalam lubang, mengakibatkan 13 orang meninggal dunia.