IHSG Berpotensi Menguat di Tengah Kewaspadaan Aksi Profit Taking
IHSG Diprediksi Bergerak Positif, Investor Diimbau Cermati Potensi Profit Taking
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan mengalami kenaikan seiring dengan adanya kesepakatan dagang sementara antara Amerika Serikat dan China. Kesepakatan ini diharapkan dapat memberikan sentimen positif bagi pasar saham, meskipun para investor tetap diimbau untuk mewaspadai potensi terjadinya aksi profit taking.
Pengamat pasar modal dari Panin Sekuritas, Felix Darmawan, menyampaikan bahwa kesepakatan dagang antara AS dan China berpotensi menjadi katalis positif pada awal perdagangan. Reaksi positif ini sudah terlihat pada pasar Asia lainnya, seperti Nikkei dan Hang Seng yang telah mengalami penguatan. Namun, Felix mengingatkan bahwa euforia pasar kemungkinan hanya bersifat jangka pendek karena rincian kesepakatan tersebut belum sepenuhnya terungkap. Investor disarankan untuk tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Selain kesepakatan dagang, terdapat beberapa faktor lain yang perlu diperhatikan, antara lain:
- Kondisi global
- Pergerakan imbal hasil (yield) US Treasury
- Ekspektasi suku bunga bank sentral AS (The Fed)
Tekanan dari investor asing yang sempat keluar sebelum periode libur juga menjadi perhatian. Investor perlu mencermati apakah investor asing akan kembali masuk ke pasar atau memilih untuk menunggu dan melihat perkembangan lebih lanjut.
Secara umum, peluang IHSG untuk dibuka menguat cukup terbuka. Namun, investor dan pelaku pasar saham tetap perlu mewaspadai potensi terjadinya aksi profit taking, terutama setelah terjadi kenaikan tajam dalam beberapa minggu terakhir. Sektor-sektor seperti komoditas, keuangan, dan energi berpotensi menjadi penggerak utama pada awal pekan ini.
Sebagai informasi tambahan, AS dan China telah mencapai kesepakatan sementara terkait kebijakan tarif yang diumumkan pada awal April. Secara garis besar, kesepakatan tersebut mencakup penurunan tarif AS terhadap barang-barang dari China dari 145 persen menjadi 30 persen. Sementara itu, China juga menurunkan tarif terhadap produk-produk dari AS dari 125 persen menjadi 10 persen. Kesepakatan tarif sementara ini berlaku efektif mulai 14 Mei 2025 selama 90 hari. Namun, tarif sebesar 20 persen terhadap produk terkait fentanyl dari China tetap diberlakukan.