DPR Apresiasi Strategi Likuiditas BNI dalam Mendukung Pertumbuhan Ekonomi

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengapresiasi langkah strategis yang diambil oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) dalam menjaga likuiditas di tengah gejolak ekonomi global. Strategi ini dinilai tepat untuk mendorong intermediasi dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Adisatrya Suryo Sulisto, menyoroti fokus BNI pada penyaluran kredit ke segmen korporasi berkualitas tinggi dan penguatan dana murah melalui transformasi digital sebagai bukti komitmen kuat dalam menjaga stabilitas keuangan. Adisatrya menyatakan bahwa langkah BNI dalam menjaga likuiditas melalui seleksi kredit yang ketat dan peningkatan dana murah merupakan contoh strategi yang tepat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Penurunan rasio loan to deposit ratio (LDR) dan credit cost juga mencerminkan kemampuan BNI dalam menjaga ketahanan likuiditas dengan menyeimbangkan pertumbuhan dan mitigasi risiko.

Lebih lanjut, Adisatrya mengapresiasi upaya BNI dalam menjaga kualitas aset, yang tercermin dari rasio non-performing loan (NPL) yang stabil di level 2 persen dan penurunan loan at risk (LAR). Perbaikan kualitas aset ini dinilai penting untuk memastikan keberlanjutan kinerja perbankan dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Komisi VI DPR RI berharap BNI dapat terus mempertahankan kinerja positif tersebut dan terus berinovasi untuk mendukung sektor-sektor strategis, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam menghadapi tantangan ekonomi ke depan.

Komposisi kredit BNI didominasi oleh segmen korporasi, yang mencapai 56,6 persen dari total pembiayaan. Segmen konsumer menyusul dengan kontribusi sebesar 18,9 persen, sementara kredit ke segmen menengah dan kecil masing-masing berkontribusi sebesar 12,6 persen dan 9,6 persen. Kontribusi pembiayaan dari anak usaha juga mengalami peningkatan, dari 1,6 persen menjadi 2,2 persen. Pertumbuhan kredit BNI secara konsolidasi pada kuartal I 2025 dilaporkan telah sesuai dengan target yang ditetapkan untuk sepanjang tahun ini.

Dari sisi kualitas aset, rasio NPL BNI terjaga di level 2 persen, sementara LAR turun menjadi 10,9 persen dari 13,3 persen pada kuartal I 2024. Perbaikan kualitas ini juga menghasilkan penghematan beban pencadangan yang dibentuk atau credit cost dari 1 persen menjadi 0,9 persen, sejalan dengan target aspirasi BNI tahun ini.

Dengan langkah-langkah strategis ini, BNI diharapkan dapat melanjutkan pertumbuhan dan memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Dukungan terhadap UMKM juga menjadi perhatian utama, mengingat peran penting sektor ini dalam perekonomian nasional.