Pesona Morelia Viridis: Ular Piton Endemik Papua yang Terancam Punah Akibat Perburuan
Papua, tanah yang kaya akan keanekaragaman hayati, menyimpan pesona tersendiri dalam wujud Morelia viridis, atau yang lebih dikenal dengan sebutan piton hijau Papua. Ular ini merupakan salah satu satwa endemik Papua yang dilindungi oleh undang-undang Indonesia.
Kecantikan ular sanca hijau ini terletak pada warnanya yang khas, hijau zamrud, meskipun beberapa individu memiliki variasi warna keemasan yang sangat digemari. Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua Barat, Jhoni Santoso Silaban, mengungkapkan kekhawatiran bahwa popularitas varian warna keemasan ini justru menjadi bumerang. Permintaan yang tinggi dari para kolektor dan penghobi reptil memicu perburuan ilegal, mengancam keberlangsungan populasi ular ini di alam liar.
Pemerintah telah menetapkan Morelia viridis sebagai satwa yang dilindungi dan mendirikan kawasan konservasi sebagai upaya menjaga habitat ular ini. Layaknya ular lainnya, piton hijau Papua menggunakan lidahnya untuk mengidentifikasi lingkungan sekitar. Proses ini melibatkan penjuluran lidah yang cepat untuk mengumpulkan partikel zat kimia di udara. Partikel-partikel ini kemudian diantar ke organ Jacobson, terletak antara mulut dan hidung ular. Organ ini berfungsi sebagai indra penciuman yang mengirimkan sinyal ke otak, memungkinkan ular untuk mendeteksi keberadaan benda atau makhluk hidup di sekitarnya, bahkan melacak mangsa.
Menurut Hari Suroto, seorang peneliti dari Pusat Riset Arkeologi BRIN yang fokus pada flora dan fauna Papua, ular sanca Papua termasuk dalam marga Morelia, berkerabat dengan sanca karpet. Meskipun termasuk dalam keluarga Pythonidae, tubuh sanca Papua relatif ramping dan berukuran sedang. Ukuran betina biasanya lebih besar daripada jantan, dengan panjang tubuh mencapai 1,5-2 meter. Ekor ular ini cukup panjang, mencapai sekitar 14% dari total panjang tubuhnya. Kepala sanca Papua berukuran cukup besar dengan leher yang ramping dan moncong lancip.
Sanca Papua lahir dengan warna kulit yang unik. Anak ular dapat lahir dengan warna kuning hingga kecoklatan, yang kemudian berubah menjadi hijau cerah saat dewasa. Warna hijau ular ini seringkali dihiasi dengan bintik-bintik putih atau kuning. Beberapa individu bahkan menunjukkan sedikit warna biru atau lahir dengan warna biru yang sempurna. Berat jantan dewasa berkisar antara 1,1-1,4 kg, sementara betina bisa mencapai 16 kg, bahkan ada yang mencapai 22 kg.
Keeksotisan sanca Papua semakin bertambah dengan proses pergantian kulit yang dialaminya. Daya tarik inilah yang sayangnya memicu perdagangan ilegal. Ular ini memiliki habitat di pepohonan dan dikenal sebagai satwa yang jinak dan tidak berbisa. Suroto menambahkan bahwa upaya penangkaran telah dilakukan, namun tidak banyak yang berhasil karena kompleksitasnya.
Saat ini, belum ada kawasan konservasi khusus yang didedikasikan untuk melindungi ular hijau Papua ini. Keberadaannya cenderung aman di dalam taman nasional, seperti Taman Nasional Wasur di Merauke atau kawasan wisata Raja Ampat. Pihak berwenang di bandara-bandara seperti Sentani, Merauke, Mimika, Sorong, dan Manokwari juga memperketat pengawasan untuk mencegah penyelundupan satwa langka ini keluar dari Papua.
Ironisnya, perburuan tradisional untuk konsumsi masih terjadi di beberapa wilayah, terutama oleh suku-suku yang tinggal di pedalaman Papua, seperti di hutan Sungai Mamberamo. Kombinasi antara perburuan ilegal, hilangnya habitat, dan perburuan tradisional menempatkan Morelia viridis dalam posisi yang rentan. Upaya konservasi yang lebih komprehensif dan kesadaran masyarakat yang lebih tinggi sangat dibutuhkan untuk memastikan kelangsungan hidup ular eksotis ini di habitat aslinya.