Di Balik Layar Liga 1: Kisah Rujito, Sang Pengemudi Setia Kru Siaran

Rujito: Lebih dari Sekadar Pengemudi Bus di Liga 1

Di tengah gemuruh stadion, sorak sorai penonton, dan aksi para pemain di lapangan hijau, ada satu sosok yang jarang tersorot kamera namun memiliki peran vital dalam menyukseskan siaran langsung Liga 1. Dia adalah Rujito, bukan bagian dari tim inti, bukan pula kru yang bertugas di balik kamera atau mikrofon, namun kehadirannya sangat krusial. Rujito adalah pengemudi bus yang mengantarkan tim broadcast dari satu stadion ke stadion lainnya, memastikan kelancaran siaran langsung sepak bola ke seluruh penjuru Indonesia.

Selama lebih dari dua dekade, Rujito telah mendedikasikan dirinya di balik kemudi, mengantarkan denyut nadi sepak bola Indonesia ke berbagai daerah di Pulau Jawa. Perjalanan karirnya dimulai sejak tahun 2003 sebagai pengemudi bus reguler. Pengalaman membawanya melintasi berbagai rute, dari antar kota, pariwisata, hingga sempat merasakan dinamika sistem transportasi Transjakarta.

"Dulu kalau sudah merasa tidak nyaman, ya pindah saja. Karena sistemnya kemitraan dan tidak ada kontrak kerja. Tapi sekarang sudah lebih tertata, ada kontrak 3 sampai 6 bulan. Sekarang saya sudah tiga tahun bekerja di United Live," ujar Rujito.

Tugasnya saat ini lebih dari sekadar mengantar penumpang. Ia bertanggung jawab mengangkut tim dengan satu tujuan yang sama, yaitu menyukseskan siaran langsung pertandingan sepak bola.

"Sekarang lebih enak, karena punya satu tujuan yang sama. Tim teknisi harus sampai tepat waktu untuk set up peralatan, begitu juga kru yang lain sebelum jam tertentu harus sudah berada di stadion."

"Yang penting adalah tahu jadwalnya, jam berapa call time-nya. Kita persiapkan unitnya, perawatannya, dan juga harus cukup istirahat. Kalau sudah tahu jadwal, misalnya ke Surabaya butuh berapa jam, ya kita atur waktunya," lanjutnya.

Tantangan dan Risiko di Jalanan

Pengalaman pahit pernah dialaminya usai laga final leg kedua Championship Series Liga 1 antara Madura United melawan Persib Bandung musim lalu. Saat melintas di jembatan Suramadu, bus yang dikemudikannya dihadang oleh sekelompok suporter.

"Sudah dijelaskan, sudah ditunjukkan ID Card dan logo televisi, tetap saja tidak dipercaya. Tangan saya bahkan sempat dipukul. Saya anggap saat itu seperti berurusan dengan orang yang sedang tidak berpikir jernih," kenang pria berusia 40 tahun ini.

Untungnya, salah satu tokoh suporter mengenali bus yang dikemudikannya karena sering melihatnya di stadion. Ia berhasil menenangkan massa yang mulai bertindak anarkis.

"Kalau tidak ada dia, mungkin ceritanya akan berbeda. Kaca bus juga sudah terkena lemparan. Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika saat itu tidak ada yang membantu," tambahnya.

Pengalaman tersebut membuat Rujito semakin berhati-hati dalam bertugas, meskipun bus yang dikemudikannya memiliki branding stasiun televisi.

Menurutnya, banyak kejadian tak terduga yang bisa terjadi, terutama saat bertugas di laga-laga bigmatch atau derbi. Kekhawatiran akan suporter yang kehilangan kendali selalu menghantui.

"Kita kadang bingung, namanya juga suporter fanatik, terkadang mereka membabi buta. Timnya menang saja kadang mengamuk, apalagi kalau kalah."

"Kita pakai bus resmi kru TV, tapi tetap saja dianggap musuh. Kalau cuma satu dua orang sih tidak masalah, tapi kalau sudah banyak sekali," ungkap pria asal Yogyakarta ini.

"Antisipasinya adalah kita berangkat lebih awal dan pulang paling terakhir setelah pertandingan selesai dan kondisi stadion sudah mulai sepi," lanjutnya.

Sebagai pengemudi bus resmi kru siaran langsung, Rujito sadar bahwa tugasnya bukan hanya mengantar, tetapi juga menjaga keamanan karena bus dengan branding selalu menjadi perhatian.

Ia nyaris tidak pernah meninggalkan bus selama berada di stadion. Bahkan, ia rela tetap berada di sekitar bus saat pertandingan berlangsung untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan.

"Saya standby di dalam bus. Orang yang melihat bus ini bisa salah sangka, mengira membawa pemain atau suporter. Kalau ada apa-apa, saya bisa langsung mengamankan semampu saya," ucapnya.

Fisik Prima, Risiko Tinggi, dan Dukungan Keluarga

Menjadi sopir lintas kota dengan jadwal Liga 1 yang padat menuntut kondisi fisik yang prima. Beruntung, setiap bus kru broadcast selalu dilengkapi dengan dua pengemudi.

"Kalau capek, ya gantian. Kuncinya adalah istirahat yang cukup dan rasa tanggung jawab," kata Rujito.

Kejadian kecelakaan bus yang ramai diberitakan beberapa waktu lalu juga berdampak pada kondisi mentalnya, termasuk keluarganya.

"Keluarga sering mengingatkan untuk hati-hati. Tapi ya balik lagi, kecelakaan itu banyak faktornya. Yang penting adalah kita rutin mengecek unit, mematuhi aturan, dan tetap waspada di jalan. Sisanya ya kita serahkan kepada Tuhan," imbuhnya.

Rujito memulai karirnya sebagai sopir sejak lulus SMA tahun 2002. Ia belajar secara otodidak dari pamannya yang merupakan sopir bus malam.

"Selama tujuh bulan saya ikut ke Yogya–Jakarta, Wonosobo–Jakarta. Pas om mengantuk, saya gantian menyetir. Dari situ saya semakin lancar," kenang Rujito.

Kini, SIM B2 Umum miliknya sudah empat kali diperpanjang. Tahun depan, ia siap memperbaruinya lagi.

Meski bukan nama yang tertulis di jersey atau terpampang di papan skor, peran Rujito tidak bisa diremehkan. Ia adalah pahlawan tanpa tanda jasa di balik layar kesuksesan siaran langsung Liga 1.

"Kalau besok ada laga, hari ini saya sudah siapkan unitnya. Saya cek, saya rawat, supaya semuanya aman dan kru bisa bekerja dengan maksimal," pungkasnya.