Aktivitas Vulkanik Gunung Ile Lewotolok Meningkat: 112 Letusan Tercatat dalam Sehari, Warga Tetap Waspada

Aktivitas Vulkanik Gunung Ile Lewotolok Meningkat: 112 Letusan Tercatat dalam Sehari, Warga Tetap Waspada

Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan. Berdasarkan data Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Ile Lewotolok, tercatat sebanyak 112 letusan terjadi dalam kurun waktu 24 jam, mulai pukul 00.00 WITA hingga 24.00 WITA pada Sabtu, 8 Maret 2025. Letusan-letusan tersebut disertai dengan semburan abu vulkanik yang mencapai ketinggian antara 100 hingga 300 meter, dengan warna asap yang bervariasi antara putih dan kelabu. Petugas PGA, Yeremias Kristianto Pugel, mencatat amplitudo letusan berkisar antara 14.4 hingga 38.9 mm, dengan durasi masing-masing letusan berlangsung selama 40 hingga 97 detik. Selain semburan abu, teramati pula lontaran lava pijar dan suara gemuruh yang intensitasnya bervariasi, dari lemah hingga sedang.

Data seismik juga menunjukkan peningkatan aktivitas. Selama periode yang sama, tercatat 116 kali gempa embusan, 1 kali tremor non-harmonik, 58 kali tremor harmonik, 4 kali gempa vulkanik dalam, dan 1 kali gempa tektonik jauh. Kondisi ini mengindikasikan adanya pergerakan magma di bawah permukaan gunung yang berpotensi menyebabkan peningkatan aktivitas vulkanik lebih lanjut. Menyikapi kondisi ini, pihak PGA Ile Lewotolok mengeluarkan imbauan kepada masyarakat di empat desa terdekat, yaitu Jontona, Lamatokan, Todanara, dan Amakaka, untuk tetap waspada dan meningkatkan kewaspadaan. Masyarakat dihimbau untuk menggunakan masker atau alat pelindung diri lainnya untuk mengurangi dampak paparan abu vulkanik terhadap kesehatan.

Warga Desa Lamatokan, Konradus (35), membenarkan peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Ile Lewotolok dalam beberapa hari terakhir. Ia menuturkan bahwa suara gemuruh dan dentuman terdengar hampir setiap hari, baik siang maupun malam. “Kami dengar gemuruh dan dentuman hampir setiap hari, kadang pagi, siang, kadang kala malam hari,” ujar Konradus. Selain suara gemuruh, pada malam hari, warga juga kerap menyaksikan lontaran lava pijar dari puncak gunung. Meskipun sudah terbiasa dengan aktivitas vulkanik Gunung Ile Lewotolok, warga tetap meningkatkan kewaspadaan, khususnya jika terjadi peningkatan aktivitas secara tiba-tiba.

Meskipun warga telah terbiasa dengan aktivitas gunung berapi ini, kewaspadaan tetap menjadi prioritas utama. Pemerintah daerah setempat dan instansi terkait terus memantau situasi dan memberikan informasi terkini kepada masyarakat. Masyarakat diimbau untuk mengikuti arahan dan himbauan dari pihak berwenang untuk mengurangi risiko dampak negatif dari aktivitas Gunung Ile Lewotolok. Pemantauan intensif dan kesiapsiagaan menjadi kunci dalam menghadapi potensi peningkatan aktivitas vulkanik di masa mendatang.

Catatan: Informasi ini berdasarkan data hingga tanggal 9 Maret 2025.