Dilema Kebijakan Moneter: Rupiah Terancam, BI Sulit Pangkas Suku Bunga Hingga 2026

Bank Indonesia (BI) dihadapkan pada tantangan berat dalam menentukan arah kebijakan moneternya. Keputusan The Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Mei 2025, semakin mempersempit ruang gerak BI untuk melakukan pelonggaran moneter.

Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, memperkirakan bahwa BI akan mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75% dalam jangka waktu yang cukup panjang. Bahkan, jika The Fed tidak memberikan sinyal pelonggaran yang kuat dan risiko inflasi meningkat akibat tarif global serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah, BI kemungkinan akan mempertahankan suku bunga acuannya hingga awal tahun 2026.

Tantangan Ganda: Stabilitas Rupiah vs. Stimulus Ekonomi

Kondisi ini menempatkan BI dalam posisi yang sulit. Di satu sisi, BI perlu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tidak terdepresiasi lebih dalam. Di sisi lain, BI juga perlu memberikan stimulus ekonomi untuk mendorong pertumbuhan yang melambat. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2025 tercatat sebesar 4,87%, menjadi yang terlemah sejak tahun 2021.

Setiap pemangkasan suku bunga yang terburu-buru berpotensi memicu arus modal keluar dan melemahkan rupiah, yang saat ini sudah menghadapi tekanan akibat penghindaran risiko global. Suku bunga AS yang tetap tinggi, ditambah dengan risiko geopolitik, dapat membebani sentimen investor dan mendorong arus modal asing keluar dari Indonesia. Kondisi ini akan semakin memperburuk tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Peran Kebijakan Fiskal

Dalam situasi ini, beban kebijakan kemungkinan akan beralih ke langkah-langkah fiskal. Pemerintah diperkirakan akan mempercepat program bantuan sosial dan belanja modal pada semester kedua tahun ini untuk mengatasi pertumbuhan kuartal I yang lemah dan meningkatkan permintaan domestik. Namun, efektivitas kebijakan fiskal ini juga menghadapi tantangan, terutama di tengah transisi politik dan potensi kekurangan pendapatan. Hal ini dapat menyebabkan penurunan proyeksi pertumbuhan PDB untuk tahun 2025 menjadi 4,8%.

Kebijakan The Fed dan Dampaknya

The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan FOMC bulan ini. Suku bunga acuan AS (Fed Funds Rate) tetap berada di level 4,25-4,5%, yang telah berlaku sejak Desember 2024. Keputusan ini diambil sambil menunggu kejelasan kebijakan tarif perdagangan pemerintah AS dan dampaknya terhadap perekonomian AS yang sedang lesu. The Fed juga mewaspadai risiko peningkatan pengangguran dan inflasi akibat tekanan dari kebijakan tarif perdagangan yang akan diterapkan AS ke berbagai negara.

Dengan demikian, BI perlu berhati-hati dalam mengambil kebijakan moneter di tengah ketidakpastian global dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Koordinasi antara kebijakan moneter dan fiskal akan menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.