Teater Gardanalla Suguhkan Drama 'Bertiga tapi Berempat' di Panggung Jakarta: Refleksi Reformasi dalam Perspektif Intim
Teater Gardanalla membawakan lakon provokatif berjudul 'Bertiga tapi Berempat' ke Jakarta, sebuah karya yang menyelami pusaran peristiwa reformasi 1996-1998 melalui lensa hubungan yang kompleks dan intim. Pertunjukan ini dipentaskan di Komunitas Salihara, Jakarta.
Drama ini menghadirkan empat aktor yang secara bergantian memerankan karakter Dora, Cuk, dan Giant, serta bertindak sebagai narator. Latar belakang reformasi menjadi fondasi cerita, di mana karakter-karakter tersebut bergulat dengan idealisme, kekecewaan, dan dinamika kekuasaan yang terdistorsi.
- Dora: Seorang mantan aktivis yang kini menjadi istri Giant. Masa lalunya yang penuh semangat reformasi berbenturan dengan realitas pernikahannya yang tidak konvensional.
- Giant: Suami Dora, seorang pria yang menyimpan rasa sayang yang besar pada istrinya, tetapi memiliki pandangan yang tidak biasa tentang hubungan. Ia mengajak pria lain untuk berbagi ranjang bersamanya dan Dora, sebuah tindakan yang memicu konflik dan pertanyaan tentang cinta, kebebasan, dan kepemilikan.
- Cuk: Kehadirannya memicu perdebatan tentang sejarah kelam Indonesia di atas ranjang, ruang yang secara simbolis menjadi arena pertarungan ideologi dan emosi.
Sutradara dan penulis naskah, Joned Suryatmoko, mengungkapkan bahwa ide pementasan ini muncul dari eksplorasi data sejarah di media sosial. Ia mengolah informasi tersebut menjadi narasi yang menyimpang dari norma, dengan tujuan memicu pemikiran kritis di kalangan penonton.
"Masyarakat seharusnya kritis mempertanyakan mana yang benar atau tidak. Teater jadi ruang terombang-ambing dan peran yang berubah," ujar Joned.
Joned memilih latar peristiwa reformasi di Yogyakarta karena terinspirasi dari pengalamannya sebagai mahasiswa pada masa itu. Ia ingin menggambarkan kekecewaan dan gejolak yang dirasakan oleh masyarakat, serta menyoroti momen-momen penting seperti aksi pembakaran kantor GATRA. Dengan menampilkan perspektif aktivis dari April 1996 hingga Juli 1998, ia berharap dapat membangkitkan ingatan tentang periode penting dalam sejarah Indonesia.
Naskah 'Bertiga tapi Berempat' mengalami proses pertumbuhan yang signifikan. Awalnya ditulis untuk tiga pemeran, naskah ini kemudian dikembangkan menjadi empat karakter setelah Joned membawa karyanya ke Asia Playwright Meeting di Tokyo dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Jepang dan Inggris. Naskah ini juga sempat dibacakan di beberapa negara, termasuk Filipina, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman pada tahun 2013.
Salah satu aspek unik dari pementasan ini adalah konsep metateater yang ditonjolkan oleh Joned. Ia menggabungkan unsur realisme dengan akting yang berlagak, menciptakan lapisan makna yang kompleks dan menantang penonton untuk merenungkan batas antara realitas dan representasi.
"Realis tetap ada, tapi bagaimana akting keluar-masuk. Bisa mengimplikasi dan menyuarakan dramaturgi realisme, bagaimana akting berlagak seperti apa. Berangkat dari kegelisahan membagikan itu, bagaimana panggung bergerak ke wilayah yang bermain-main," jelas Joned.
Pementasan 'Bertiga tapi Berempat' menawarkan pengalaman teater yang menggugah pikiran dan emosi. Melalui eksplorasi hubungan yang intim dan latar belakang sejarah yang kelam, drama ini mengajak penonton untuk merenungkan makna reformasi, kebebasan, dan identitas.