Badan Gizi Nasional Pertimbangkan Skema Asuransi Komprehensif untuk Program Makanan Bergizi

Badan Gizi Nasional (BGN) tengah mengkaji kemungkinan penerapan skema asuransi yang lebih luas, mencakup petugas di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) hingga penerima manfaat program makanan bergizi (MBG). Langkah ini diambil sebagai respons terhadap insiden keracunan makanan yang melibatkan program MBG.

Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola BGN, Tigor Pangaribuan, menjelaskan bahwa skema asuransi tersebut akan diintegrasikan ke dalam biaya operasional program. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa BGN dapat memberikan bantuan finansial jika terjadi kasus keracunan atau masalah kesehatan lain yang terkait dengan program MBG.

"Kami sedang mempertimbangkan opsi asuransi bagi penerima manfaat sebagai bagian dari biaya operasional. Ini adalah fokus utama kami saat ini," ujar Tigor di Jakarta, belum lama ini. BGN berupaya mencari solusi agar biaya asuransi tidak mengurangi alokasi anggaran untuk pengadaan bahan pangan dalam program MBG. BGN menekankan pentingnya menjaga kualitas dan kuantitas bahan pangan yang diberikan kepada penerima manfaat.

Selain itu, BGN juga tengah merancang skema asuransi bagi petugas SPPG yang berpotensi mengalami kecelakaan kerja, seperti kebakaran di dapur. "Kami menyadari risiko kecelakaan kerja di dapur, dan asuransi ini akan memberikan perlindungan finansial bagi petugas jika terjadi insiden," lanjut Tigor.

Untuk petugas SPPG, BGN berencana memanfaatkan program BPJS Kesehatan. BGN akan menanggung biaya BPJS Kesehatan bagi petugas SPPG, tanpa memotong gaji mereka. Langkah ini diharapkan dapat memberikan jaminan kesehatan yang komprehensif bagi seluruh petugas SPPG.

Isu keracunan makanan dalam program MBG kembali mencuat setelah puluhan siswa di Kota Bogor, Jawa Barat, harus dirawat di rumah sakit akibat dugaan keracunan. Kasus pertama dilaporkan di Sekolah Bosowa Bina Insani, di mana sejumlah siswa mengalami gejala seperti diare, muntah, mual, dan demam.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, Sri Nowo Retno, mengungkapkan bahwa ratusan siswa dari beberapa sekolah di Kota Bogor mengalami keracunan. Sebelumnya, insiden serupa juga terjadi di Cianjur, Jawa Barat, yang melibatkan puluhan siswa dari MAN 1 dan SMP PGRI 1 Cianjur.

Berikut rincian jumlah siswa yang terdampak keracunan di Kota Bogor:

  • TK Bina Insani: 18 siswa
  • SD Bina Insani: 2 siswa
  • SMP Bina Insani: 82 siswa
  • SD Negeri Kukupu 3: 9 siswa
  • SD Negeri Kedung Jaya 1: 16 siswa
  • SD Negeri Kedung Jaya 2: 43 siswa