Wabah Demam Babi Afrika Sebabkan Kerugian Triliunan Rupiah bagi Peternak Bali

Wabah Demam Babi Afrika (African Swine Fever/ASF) telah menimbulkan kerugian yang sangat signifikan bagi peternak babi di Bali. Dalam kurun waktu enam tahun terakhir, ratusan ribu ekor babi dilaporkan mati akibat penyakit ini, mengakibatkan kerugian ekonomi yang diperkirakan mencapai lebih dari Rp 2 triliun.

Wakil Ketua DPRD Bali, Ida Gede Komang Kresna Budi, mengungkapkan bahwa data dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali mencatat setidaknya 266 ribu ekor babi mati akibat ASF sejak tahun 2019. Namun, ia meyakini bahwa angka sebenarnya jauh lebih tinggi, mengingat banyak peternak yang enggan melaporkan kematian ternak mereka. Estimasi menunjukkan bahwa sekitar 500 ribu ekor babi telah mati sejak wabah dimulai.

"Dengan perkiraan harga per ekor babi mencapai Rp 4 juta, total kerugian peternak dapat mencapai lebih dari Rp 2 triliun," ujar Komang Kresna Budi setelah melakukan pemantauan pengiriman babi di Pelabuhan Celukan Bawang, Buleleng.

Ia menekankan bahwa babi dan ternak lainnya sangat rentan terhadap serangan penyakit, terutama yang disebabkan oleh virus seperti ASF. Ketakutan akan virus ini terus menghantui para peternak. Oleh karena itu, ia menghimbau semua pihak untuk lebih berhati-hati dalam mengelola sistem dan rantai pasokan ternak, terutama saat melakukan pengiriman ternak ke luar daerah.

Untuk meminimalkan risiko penyebaran ASF, DPRD Bali akan merekomendasikan kepada Gubernur Bali agar pengiriman ternak dari Bali dilakukan melalui jalur laut atau port to port. Hasil kajian menunjukkan bahwa pengiriman melalui pelabuhan laut lebih aman dalam mencegah penyebaran ASF. Alat angkut menjadi salah satu penyebab utama penyebaran virus ini.

Pengiriman melalui darat dinilai lebih berisiko karena alat angkut ternak dapat melintasi daerah yang terjangkit ASF, sehingga meningkatkan kemungkinan penyebaran virus. Komang Kresna Budi menyoroti kasus pengiriman babi melalui darat yang baru-baru ini terjadi, yang dianggap kurang sensitif dan tidak mempertimbangkan risiko yang ada.

"Bayangkan, dari Gilimanuk ke Pulau Jawa, lalu ke Kalimantan, ini seperti membawa virus jalan-jalan. Mengapa tidak dipangkas melalui pelabuhan ke pelabuhan tujuan? Cara ini relatif paling aman," tegasnya.

DPRD Bali berharap dengan rekomendasi ini, pengiriman ternak dapat dilakukan dengan lebih aman dan efektif, sehingga dapat melindungi peternak dari kerugian lebih lanjut dan mencegah penyebaran ASF yang lebih luas.

Berikut adalah poin-poin penting yang dibahas:

  • Kerugian peternak akibat ASF mencapai Rp 2 triliun.
  • Data resmi mencatat 266 ribu babi mati, namun diperkirakan mencapai 500 ribu.
  • Pengiriman ternak melalui laut (port to port) dinilai lebih aman.
  • DPRD Bali akan merekomendasikan pengiriman ternak melalui laut kepada Gubernur Bali.
  • Pengiriman melalui darat dianggap berisiko karena potensi melewati daerah terjangkit ASF.