Penantian 17 Tahun Berbuah Manis: Tukang Parkir Madiun Wujudkan Mimpi Naik Haji

Tukang Parkir di Madiun Akhirnya Bisa Tunaikan Ibadah Haji Setelah 17 Tahun Menabung

MADIUN, JAWA TIMUR - Ujud Pranoto, seorang tukang parkir berusia 61 tahun, dan istrinya, Sariyati (50), akhirnya dapat mewujudkan impian mereka untuk menunaikan ibadah haji. Pasangan ini, yang merupakan warga Kelurahan Ngegong, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Jawa Timur, telah menabung dengan gigih selama 17 tahun demi mencapai tujuan mulia ini.

Ujud, yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang parkir, dan Sariyati, yang berjualan di warung, telah lama memendam keinginan untuk mengunjungi Tanah Suci. Semangat mereka tak pernah padam, bahkan di tengah kerasnya kehidupan. Setiap hari, mereka menyisihkan sebagian kecil dari penghasilan mereka untuk ditabung, dengan harapan suatu hari nanti dapat memenuhi panggilan Ilahi.

Saat ditemui di tempat kerjanya, Ujud tampak bersemangat. Dengan mengenakan rompi oranye dan topi hitam, ia dengan cekatan mengatur sepeda motor yang parkir di Jalan Sumatera, Kota Madiun. Meski usianya sudah tidak muda lagi, gerakannya masih lincah dan penuh energi. Ujud mengaku selalu mengajak istrinya berjalan pagi setiap hari untuk menjaga kebugaran fisik. Ia menyadari bahwa ibadah haji membutuhkan stamina yang prima.

"Haji itu ibadah fisik," ujarnya, "Jadi, kami harus mempersiapkan diri sebaik mungkin sejak sekarang."

Kisah Ujud dan Sariyati dimulai pada tahun 2008, ketika mereka memutuskan untuk memulai perjalanan panjang menabung. Terinspirasi oleh teman dan saudara yang telah berkesempatan menunaikan ibadah haji, mereka bertekad untuk mengikuti jejak mereka. Uang hasil dari berjualan soto dan menjaga parkir kendaraan bermotor dikumpulkan sedikit demi sedikit.

"Kami usahakan setiap hari menabung. Target sehari kalau bisa Rp 50.000. Dan Alhamdulillah tahun 2012 dapat mendaftar haji," ungkap Ujud dengan rasa syukur.

Bagi Ujud, ibadah haji bukan hanya sekadar perjalanan spiritual, tetapi juga merupakan penyempurnaan diri sebagai seorang Muslim. Ia ingin menjalankan rukun Islam yang kelima ini dengan sebaik-baiknya.

Ujud menceritakan bahwa Kota Madiun adalah tempatnya merantau untuk mencari rezeki. Pria asal Lamongan ini telah berjualan soto keliling sejak tahun 1990. Sementara itu, istrinya membuka warung di depan Satlantas Polres Madiun Kota.

Sariyati menambahkan bahwa usaha soto mereka sempat terdampak pandemi Covid-19. Bahkan, lokasi tempat mereka berjualan juga terkena gusur akibat pembangunan. Namun, mereka tidak menyerah. Sariyati kemudian mendapatkan lokasi baru untuk berjualan minuman dan makanan ringan. Setelah warung dibongkar pada tahun 2019, Ujud beralih profesi menjadi tukang parkir, sementara istrinya tetap menjalankan toko kelontong yang buka 24 jam.

"Karena bapak tidak ada kerjaan, kemudian jadi tukang parkir di depan Kantor Satlantas Polres Madiun Kota di Jalan Sumatera. Bekerja mulai dari jam 6 pagi sampai pukul 13.00," jelas Sariyati.

Pasangan ini sebenarnya dijadwalkan berangkat haji pada tahun 2020, namun pandemi Covid-19 menyebabkan keberangkatan mereka tertunda. Akhirnya, tahun ini, Ujud dan Sariyati akan berangkat ke Tanah Suci pada hari Jumat, 16 Mei 2025.

Selain persiapan fisik dan mental, Ujud dan Sariyati juga telah mempersiapkan perlengkapan yang akan mereka bawa selama beribadah di Tanah Suci. Mereka merasa tenang karena ketiga anak mereka telah memiliki pekerjaan tetap dan kehidupan yang mapan. Anak pertama mereka bekerja sebagai guru, anak kedua sebagai pelaut, dan anak bungsu sebagai anggota TNI AU.

Setelah pulang haji, Ujud dan Sariyati berencana untuk tetap bekerja seperti biasa. Ujud akan terus menjadi tukang parkir, dan Sariyati akan melanjutkan usahanya berjualan minuman dan makanan. Semangat mereka untuk bekerja keras dan bersyukur atas rezeki yang diberikan patut menjadi contoh bagi kita semua.

"Insya Allah ya tetap parkir (jadi tukang parkir). Itu kan pekerjaan sehari-hari. Lah, buat makan dari parkir dan jualan itu," pungkas Sariyati dengan senyum.