Colok Gembrung: Kisah Sate Kulit Sapi Ciamis yang Melegenda Sejak 1960-an

Di jantung Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, tersembunyi sebuah warisan kuliner yang telah memikat lidah selama beberapa generasi: Colok Gembrung. Lebih dari sekadar sate kulit sapi biasa, Colok Gembrung adalah perpaduan cita rasa unik dan tradisi keluarga yang telah dipertahankan sejak tahun 1960-an.

Kudapan ini menawarkan pengalaman rasa yang tak terlupakan. Potongan kulit sapi yang lembut, ditusuk rapi pada lidi, kemudian dibaluri dengan bumbu galendo, ampas kelapa yang digoreng hingga kering dan menghasilkan cita rasa gurih yang khas. Kombinasi tekstur dan rasa inilah yang menjadikan Colok Gembrung begitu istimewa.

Asal Usul dan Generasi Penerus

Colok Gembrung lahir di Dusun Pasir Datar, Desa Mekarjaya, Kecamatan Baregbeg. Nama "gembrung" sendiri diambil dari bahan dasarnya, yaitu kulit sapi yang setelah diproses menjadi menyerupai kulit beduk (gembrung). Proses pengolahan yang cermat mengubah kulit sapi menjadi kudapan dengan rasa manis dan gurih yang menawan.

Kisah Colok Gembrung dimulai pada tahun 1960-an oleh Imoh (Almh), dan kini dilanjutkan oleh generasi ketiga, Rukmini (74). Sejak 2016, tongkat estafet usaha ini juga telah berada di tangan generasi keempat, Yudi (50), putri Rukmini. Di kediamannya yang sekaligus menjadi tempat produksi, Rukmini berbagi cerita tentang bagaimana Colok Gembrung lahir dari tangan kreatif neneknya.

Dari Limbah Menjadi Ikon Kuliner

Pada era 1960-an, suami Imoh bekerja sebagai jagal di Ciamis. Upah yang diterima berupa kulit sapi segar, limbah dari proses pemotongan hewan. Melihat potensi dari limbah tersebut, Imoh berinisiatif untuk mengolahnya menjadi kudapan yang lezat.

"Dulu, nenek merebus kulit sapi yang masih basah, memotongnya kecil-kecil, menusuknya dengan lidi, lalu membumbuinya dengan galendo yang diolah dengan resep khusus," kenang Rukmini. Awalnya, Colok Gembrung hanya dinikmati di lingkungan keluarga. Namun, karena rasanya yang unik dan lezat, Imoh mencoba menjualnya di sekitar rumah.

Ternyata, Colok Gembrung mendapat sambutan yang luar biasa. Permintaan pun meningkat, dan Imoh mulai memproduksi Colok Gembrung dalam jumlah yang lebih besar. Bahkan, ia harus membeli kulit sapi sebagai bahan baku, karena limbah dari tempat pemotongan hewan tidak lagi mencukupi.

Rukmini sendiri mulai ikut menjual Colok Gembrung sejak ia lulus sekolah pada tahun 1962. Ia menjajakan dagangannya di Pasar Ciamis, yang kini menjadi Alun-alun Ciamis.

Melegenda dan Menghidupi Keluarga

Seiring berjalannya waktu, Colok Gembrung semakin dikenal dan digemari oleh masyarakat Ciamis. Kudapan ini pun merambah pasar-pasar di Ciamis, Banjar, bahkan hingga ke luar daerah. Kini, Colok Gembrung telah menjadi ikon kuliner khas Ciamis yang legendaris.

Keberhasilan Colok Gembrung juga memberikan dampak positif bagi keluarga Rukmini. Dari hasil berjualan Colok Gembrung, ia berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi, bahkan menunaikan ibadah haji.

Inovasi untuk Melestarikan Tradisi

Yudi, generasi keempat penerus usaha Colok Gembrung, kini memproduksi sekitar 800 tusuk Colok Gembrung pada hari-hari biasa. Saat pesanan meningkat, ia mampu membuat hingga 2.000 tusuk sehari dengan bantuan empat orang pegawai yang merupakan anggota keluarganya.

Yudi menjual Colok Gembrung di Pasar Banjar dengan harga Rp 1.000 per tusuk, sementara di tempat produksi, harganya Rp 800. Saat ini, Yudi tengah berupaya untuk melakukan inovasi agar Colok Gembrung dapat bertahan lama dan mengikuti perkembangan zaman, termasuk pemasaran secara online.

Kisah Colok Gembrung adalah cerita tentang bagaimana sebuah warisan kuliner sederhana dapat bertahan melintasi generasi, menghidupi keluarga, dan menjadi kebanggaan daerah.