Ancaman Jatuhnya Wahana Antariksa Kosmos 482: Indonesia dalam Pantauan
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memantau pergerakan wahana antariksa Kosmos 482 milik Uni Soviet yang berpotensi jatuh di wilayah Indonesia. Wahana yang telah mengorbit Bumi selama lebih dari setengah abad ini, menjadi perhatian serius karena lintasannya yang melintasi wilayah Indonesia.
Kosmos 482, yang semula dirancang untuk misi pendaratan di Planet Venus, mengalami kegagalan saat peluncuran pada tahun 1972. Akibat malfungsi pada tahap akhir peluncuran, wahana ini gagal mencapai orbit Venus dan akhirnya menjadi sampah antariksa yang terperangkap di orbit Bumi.
Perjalanan Kosmos 482 dan Potensi Jatuh di Indonesia
Menurut Peneliti Utama Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin, Kosmos 482 terus mengorbit Bumi dalam lintasan elips sejak kegagalannya menuju Venus. Ketinggian orbitnya terus menurun akibat hambatan atmosfer. Semula berada pada ketinggian hampir 19.000 kilometer, kini orbitnya berada di sekitar 200 kilometer. Jika ketinggiannya mencapai sekitar 120 kilometer, Kosmos 482 diperkirakan akan jatuh ke Bumi dalam hitungan menit.
Kosmos 482 merupakan bagian dari misi eksplorasi Venus yang dikenal sebagai Venera. Wahana antariksa ini memiliki bobot awal 1,2 ton dan kemudian pecah menjadi beberapa bagian. Dua bagian kecil telah jatuh pada tahun 1972, sementara bagian ketiga yang lebih besar (sekitar 0,7 ton) jatuh pada Mei 1981. Bagian yang tersisa saat ini adalah modul pendarat seberat 0,5 ton, berbentuk bola dengan diameter sekitar 1 meter. Karena rancangannya yang kuat untuk menembus atmosfer Venus, modul ini diperkirakan akan tetap utuh saat jatuh. Namun, efek pemanasan oleh atmosfer Bumi akan membuatnya tampak seperti meteor besar yang meluncur cepat sebagai bola api.
BRIN memperkirakan bahwa modul Kosmos 482 akan jatuh sekitar tanggal 10 Mei 2025.
Mengapa Indonesia Berpotensi Terdampak?
Orbit Kosmos 482 melintasi wilayah antara 52 derajat lintang utara hingga 52 derajat lintang selatan. Karena Indonesia berada di wilayah ekuator dan memiliki wilayah yang luas, potensi kejatuhan Kosmos 482 di wilayah ini menjadi perhatian. Meskipun demikian, Thomas menekankan bahwa karena ketidakpastian faktor hambatan atmosfer, lokasi dan waktu jatuhnya masih sulit dipastikan.
Pemantauan dan Imbauan BRIN
Pusat Riset Antariksa BRIN terus memantau lintasan orbit Kosmos 482 menjelang ketinggian kritis 120 kilometer. Pemantauan ini penting untuk menentukan wilayah yang paling potensial terkena dampak kejatuhan sampah antariksa, dengan melihat lintasan akhir orbitnya.
BRIN mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, meskipun peluang jatuhnya Kosmos 482 di wilayah penduduk relatif kecil. Potensi jatuhnya lebih besar di laut atau hutan. Kasus Kosmos 482 menjadi pengingat akan pentingnya memantau benda-benda antariksa yang sudah tidak aktif dan berisiko terhadap keselamatan publik. Selain itu, kasus ini menyoroti perlunya kerja sama internasional dalam mengelola sampah antariksa dan mengembangkan sistem pelacakan yang efektif.