OJK Gencarkan Edukasi Keuangan Digital: Generasi Z Jadi Fokus Utama
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus berupaya meningkatkan literasi keuangan masyarakat Indonesia, khususnya di kalangan generasi Z. Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyampaikan hal ini dalam acara edukasi keuangan yang diadakan di Universitas Brawijaya, Malang.
Saat ini, tingkat literasi keuangan nasional berada di angka 66,46%. OJK menargetkan peningkatan berkelanjutan sebesar 1% setiap tahunnya. Upaya ini dilakukan melalui berbagai program edukasi yang menyasar generasi muda, dengan tujuan membekali mereka dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mengelola keuangan secara cerdas dan terhindar dari risiko di era digital.
Friderica menjelaskan bahwa pencapaian angka literasi 66,46% merupakan sebuah prestasi yang membanggakan, mengingat kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau dan perbedaan infrastruktur teknologi informasi. Menurutnya, dengan kegigihan dan kerjasama dari seluruh pemangku kepentingan, target peningkatan literasi keuangan dapat tercapai.
Dalam kesempatan tersebut, OJK memberikan edukasi kepada 1.000 mahasiswa dari Universitas Brawijaya dan berbagai perguruan tinggi lainnya di Malang. Program ini dirancang untuk mempersiapkan generasi muda agar memiliki ketahanan dan kecerdasan finansial yang mumpuni.
Salah satu fokus utama edukasi adalah mengenai bahaya yang mengintai generasi muda di sektor keuangan digital. Friderica menyoroti ancaman produk keuangan ilegal, serta penggunaan produk keuangan legal yang tidak bijaksana dan berpotensi menjerat generasi muda dalam utang yang berlebihan.
Friderica juga menyoroti fenomena di kalangan generasi Z, dimana kemudahan mendapatkan uang seringkali menjadi pertimbangan utama. Data menunjukkan bahwa sebagian besar generasi Z menggunakan pinjaman online (pinjol) untuk memenuhi kebutuhan konsumtif atau gaya hidup. Hal ini seringkali dipicu oleh Fear Of Missing Out (FOMO) dan Fear of Other People's Opinion (FOPO), yang mendorong mereka untuk meminjam uang demi mengikuti tren dan gaya hidup yang dianggap ideal.
OJK mengimbau generasi muda untuk berhati-hati dalam menggunakan produk keuangan digital dan menghindari pinjaman konsumtif yang tidak perlu. Penting untuk memiliki perencanaan keuangan yang matang dan mempertimbangkan kemampuan membayar sebelum mengambil keputusan untuk berhutang.
Risiko Penyalahgunaan Data Pribadi
Selain itu, Friderica juga mengingatkan masyarakat untuk tidak meminjamkan identitas pribadi (NIK) kepada siapapun untuk pengajuan pinjaman. Data NIK yang disalahgunakan dan menyebabkan kredit macet akan tercatat dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK, yang dapat menghambat masa depan seseorang, termasuk dalam mencari pekerjaan atau mengajukan fasilitas kredit lainnya.
Tips Mengelola Keuangan di Era Digital
Berikut beberapa tips yang dapat diterapkan oleh generasi muda untuk mengelola keuangan secara bijak di era digital:
- Buat anggaran bulanan dan catat pengeluaran.
- Prioritaskan kebutuhan daripada keinginan.
- Hindari pinjaman konsumtif yang tidak perlu.
- Manfaatkan produk keuangan digital dengan bijak.
- Lindungi data pribadi dari penyalahgunaan.
- Tingkatkan literasi keuangan melalui berbagai sumber informasi yang terpercaya.
Dengan meningkatkan literasi keuangan dan menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan keuangan yang bijak, generasi muda dapat terhindar dari risiko keuangan dan mencapai tujuan finansial mereka di masa depan.