Ratusan Warga Palabuhanratu Alami Dugaan Keracunan Massal Usai Santap Nasi Kotak Haul
Ratusan warga Kampung Babadan, Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat, mengalami insiden keracunan massal setelah mengonsumsi nasi kotak yang dibagikan dalam acara haul. Insiden ini memicu respons cepat dari petugas kesehatan dan pemerintah setempat.
Peristiwa bermula pada Rabu (7/5/2025), ketika warga menghadiri acara haul untuk mengenang seorang tokoh masyarakat yang telah meninggal dunia. Sebagai bagian dari tradisi, para peserta haul diberikan nasi kotak, yang dikenal secara lokal sebagai 'nasi jomet', sebagai bekal untuk dibawa pulang. Namun, beberapa jam setelah mengonsumsi hidangan tersebut, puluhan warga mulai mengeluhkan gejala seperti mual, muntah, sakit perut, dan diare.
Menyadari adanya kejadian luar biasa, warga mulai berdatangan ke fasilitas kesehatan terdekat, termasuk RSUD Palabuhanratu. Jumlah pasien terus bertambah hingga Kamis (8/5/2025) dini hari, mencapai lebih dari seratus orang. Karena keterbatasan kapasitas rumah sakit, sebagian pasien terpaksa dirawat di tenda darurat yang didirikan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
Camat Palabuhanratu, Deni Yudhono, menjelaskan bahwa mayoritas korban berasal dari tiga Rukun Tetangga (RT) di RW 30, serta sebagian kecil dari RW 29, khususnya di Kampung Babadan dan Sirnagalih. Menurutnya, gejala keracunan mulai muncul sekitar pukul 21.45 WIB, atau sekitar enam jam setelah warga mengonsumsi nasi kotak tersebut.
"Setelah makan nasi jomet di rumah masing-masing, banyak yang mual, mulas, bahkan muntah. Warga inisiatif datang sendiri ke rumah sakit," ujarnya.
Tim surveilans dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi segera melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti keracunan massal ini. Dugaan sementara mengarah pada kontaminasi bakteri dalam makanan yang disajikan dalam nasi kotak. Namun, untuk memastikan penyebabnya, sampel makanan telah dikirim ke laboratorium untuk pengujian lebih lanjut.
"Informasi dari tim surveilans, ini diduga karena bakteri. Kalau karena kimia, pasti dampaknya lebih hebat. Gejalanya muncul sekitar enam jam pascakonsumsi," kata Deni.
Pemerintah Kabupaten Sukabumi telah mengambil langkah-langkah untuk menangani para korban keracunan dan mencegah penyebaran lebih lanjut. Selain mendirikan posko darurat dan menyediakan tenda perawatan, pemerintah juga berkoordinasi dengan pihak rumah sakit untuk memastikan ketersediaan obat-obatan dan tenaga medis yang cukup. Petugas kesehatan juga diterjunkan ke lapangan untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan makanan dan minuman.
Berikut adalah beberapa langkah yang diambil oleh pemerintah dan pihak terkait dalam menangani insiden keracunan massal di Palabuhanratu:
- Pendirian posko darurat dan tenda perawatan.
- Peningkatan kapasitas RSUD Palabuhanratu untuk menampung pasien.
- Pengiriman sampel makanan ke laboratorium untuk pengujian.
- Sosialisasi kepada masyarakat tentang kebersihan makanan dan minuman.
- Koordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk penanganan yang efektif.
Insiden keracunan massal ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dan diharapkan dapat menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan dan keamanan pangan.