Transformasi Darmansyah: Dari Perampas Telur Penyu Menjadi Pelindung Laut Pulau Mapur yang Gigih
Di tengah keindahan perairan Pulau Mapur, Bintan, Kepulauan Riau, tersembunyi kisah inspiratif seorang pria bernama Darmansyah (55). Dahulu dikenal sebagai pemburu telur penyu, kini ia menjelma menjadi penjaga laut yang berdedikasi tinggi.
Bukanlah seorang penjaga dengan seragam resmi ataupun senjata, Darmansyah adalah seorang warga sipil biasa yang mengabdikan dirinya sebagai Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Perisai Mapur. Kelompok ini bertugas mengawasi kawasan konservasi laut di sekitar Pulau Mapur, memastikan kelestarian ekosistem laut yang kaya.
Perjalanan Darmansyah menuju konservasi laut bukanlah hasil dari pendidikan formal, melainkan dari pengalaman hidup yang mengubah pandangannya. Ia dulunya adalah seorang pemburu telur penyu, mencari telur-telur tersebut untuk dijual.
Suatu hari, sebuah kejadian mengubah segalanya. Saat menggali telur penyu, ia mendapati bahwa beberapa telur yang telah ia kumpulkan masih bisa menetas.
"Dulu saya mencari telur penyu untuk dijual. Saya ambil telur yang sudah lama di dalam pasir, bahkan ada yang sudah berdarah. Saya tutup kembali lubangnya. Beberapa minggu kemudian, saya kembali ke tempat itu," kenang Darmansyah.
"Ketika saya menggali, seekor bayi penyu keluar dari telur. Saya sadar bahwa telur-telur ini bisa menetas dan menjadi anak penyu," lanjutnya.
Sejak saat itu, Darmansyah memutuskan untuk mengubah jalan hidupnya. Ia bergabung dengan program Coral Reef Rehabilitation and Management Program (Coremap), sebuah proyek pengelolaan sumber daya pesisir yang didanai oleh Bank Dunia pada awal tahun 2000-an. Dari sinilah cikal bakal Pokmaswas mulai terbentuk.
"Pembentukan Pokmaswas ini berawal dari program Coremap. Setelah program itu selesai, banyak yang bubar. Kemudian, dibentuklah kawasan konservasi," jelas Darmansyah.
Walaupun program Coremap telah berakhir, semangat Darmansyah dan rekan-rekannya tidak pernah padam. Mereka terus berpatroli, menjaga laut dan terumbu karang secara sukarela. Pada tahun 2022, setelah pemerintah menetapkan kawasan konservasi Taman Wisata Perairan (TWP) Laut Pulau Bintan, Pokmaswas Perisai Mapur diresmikan.
Saat ini, Pokmaswas Perisai Mapur telah memiliki Kartu Tanda Anggota (KTA), perangkat GPS, kamera, dan teropong. Namun, mereka masih kekurangan kapal patroli khusus untuk menunjang kegiatan pengawasan.
"Sebagai masyarakat pengawas yang berasal dari Coremap, kami tetap mengawasi wilayah kami. Dengan adanya kawasan konservasi, anggota Pokmaswas dibentuk kembali," ungkap Darmansyah.
Sebagai ketua, Darmansyah mengoordinasikan 10 anggota aktif. Sebagian besar anggota Pokmaswas adalah nelayan yang juga berperan sebagai pengawas. Setiap hari Jumat, mereka berpatroli laut selama sekitar empat jam, mengelilingi delapan zona inti konservasi di sekitar Pulau Mapur.
Namun, dedikasi mereka tidak diimbangi dengan imbalan yang layak. Operasional Pokmaswas bergantung pada iuran pribadi dan bantuan terbatas dari mitra seperti Konservasi Indonesia (KI).
"Kami menggunakan kapal pribadi, membeli bensin sendiri. Kadang sambil mencari ikan, kami juga berpatroli," kata Darmansyah.
Ia mengakui bahwa minimnya dukungan membuat pengawasan menjadi kurang efektif.
"Pengawasan dilakukan secara rutin, tetapi jika tidak ada operasional untuk pengawasan di kawasan yang telah dibentuk, bagaimana kita bisa mengetahui perkembangannya?" keluhnya.
Pengawasan laut bukanlah tugas yang mudah. Darmansyah dan timnya pernah menemukan nelayan dari desa lain yang menangkap ikan di zona inti. Mereka tidak langsung marah atau mengusir nelayan tersebut, melainkan melakukan pendekatan persuasif.
"Kami melarang mereka menangkap ikan di zona inti dan memberikan sosialisasi mengenai aturan yang berlaku. Kami menjelaskan bahwa aktivitas penangkapan ikan di zona inti dilarang dan dapat dikenakan sanksi. Kami memahami bahwa sebagian besar nelayan mungkin tidak mengetahui aturan ini," jelasnya.
Selain penangkapan ilegal, tantangan lain yang dihadapi adalah tumpahan minyak yang sering terjadi saat musim angin utara. Pantai yang dulunya bersih kini mulai tercemar.
"Jika ada tumpahan minyak, kami mendokumentasikannya dan melaporkannya ke Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP). Namun, kami tidak mengetahui tindak lanjutnya. Kami hanya bisa melaporkan," kata Darmansyah, yang juga mengeluhkan masalah jaringan internet dan kurangnya pemahaman mengenai aplikasi pelaporan resmi.
Ketika ditanya mengapa ia tetap bertahan dalam pekerjaan sukarela ini, Darmansyah menjawab dengan tulus,
"Ini sudah panggilan hati. Saya ingin bergerak dan berkontribusi."
Dalam keterbatasan, Darmansyah merasa terpanggil untuk menjaga laut yang telah memberinya kehidupan. Dari seorang pemburu telur penyu, ia kini memiliki berbagai sertifikasi konservasi, termasuk selam rescue dan input data terumbu karang.
"Saya sering mengikuti pelatihan atau proyek dari DKP," ujarnya.
Darmansyah berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih, terutama untuk mendukung operasional Pokmaswas. Baginya, menjaga laut bukan hanya sekadar tugas teknis, tetapi juga amanah moral bagi generasi mendatang.
- Patroli laut setiap jumat
- Rutin melakukan pengawasan