Laporan PBB Mengungkap: Pemangkasan Anggaran Bantuan Internasional Ancam Kemajuan Global
Laju Pembangunan Global Melambat Akibat Pemotongan Bantuan
Sebuah laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang baru-baru ini dirilis menyoroti kekhawatiran mendalam mengenai kemajuan pembangunan global yang melambat secara signifikan pada tahun 2024. Laporan tahunan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang disusun oleh Program Pembangunan PBB (UNDP) mengindikasikan bahwa momentum pemulihan pasca-pandemi COVID-19 yang sempat menjanjikan pada tahun 2023 kini kehilangan tenaga. Faktor utama yang berkontribusi terhadap perlambatan ini meliputi stagnasi harapan hidup dan pertumbuhan pendapatan, serta peningkatan eskalasi konflik di berbagai belahan dunia.
Kepala UNDP, Achim Steiner, menyampaikan peringatan serius mengenai dampak dari perlambatan yang mengkhawatirkan ini. Menurutnya, situasi ini berpotensi menyebabkan kemunduran pembangunan manusia selama beberapa dekade, menjadikan dunia semakin tidak aman, terpecah, dan rentan terhadap guncangan ekonomi dan lingkungan. Steiner menekankan bahwa pemotongan bantuan internasional yang dilakukan oleh sejumlah negara, terutama oleh Amerika Serikat di bawah kepemimpinan mantan Presiden Donald Trump, hanya akan memperburuk dampak negatif tersebut.
Kesenjangan Akses AI Picu Kekhawatiran
Laporan tersebut juga menyoroti potensi kecerdasan buatan (AI) sebagai katalisator pembangunan, namun dengan catatan bahwa manfaatnya harus didistribusikan secara adil untuk mencegah semakin melebarnya ketimpangan. Akses terhadap AI masih sangat terbatas di negara-negara berpenghasilan rendah dibandingkan dengan negara-negara maju. Selain itu, bias budaya dalam perancangan teknologi AI dapat memperburuk kesenjangan yang ada.
Laporan tersebut menunjukan, negara-negara berpenghasilan tinggi seperti Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, dan Jerman, yang memiliki infrastruktur digital yang canggih dan mapan, memiliki keunggulan signifikan dalam pengembangan dan penerapan AI. Faktanya, pada tahun 2024, 70,2% dari total investasi global di bidang AI terkonsentrasi di Amerika Serikat. Steiner menekankan pentingnya mengatasi ketidakadilan dan kesenjangan yang ada agar AI tidak memperkuat disparitas yang sudah mengakar.
Peringkat IPM Global: Posisi Indonesia
Dalam peringkat IPM global, Islandia dan Norwegia menempati posisi teratas, diikuti oleh Jerman dan Swedia yang berbagi peringkat kelima. Amerika Serikat berada di peringkat ke-17, sedikit di bawah Kanada. India dan Bangladesh berbagi peringkat ke-130, sementara Pakistan berada di peringkat ke-168. Negara-negara seperti Chad, Republik Afrika Tengah, Somalia, dan Sudan Selatan menempati posisi terbawah dalam daftar.
Dari perspektif regional, Asia Selatan dan Afrika sub-Sahara menunjukkan tingkat pembangunan yang paling rendah. Laporan ini mengevaluasi kemajuan di tiga bidang utama: kesehatan dan harapan hidup, pengetahuan, dan standar hidup.
Berdasarkan data yang dirilis UNDP pada 6 Mei 2025, Indonesia mencatatkan kemajuan signifikan dalam Indeks Pembangunan Manusia (HDI) 2023 dengan nilai 0.728, menempatkannya di peringkat 113 dari 193 negara. Indonesia masuk dalam kategori "pembangunan manusia tinggi." Sejak 1990, nilai HDI Indonesia meningkat 37,1%, dari 0.531 menjadi 0.728. Peningkatan ini tercermin dalam beberapa indikator utama, seperti:
- Harapan hidup yang bertambah 7,90 tahun
- Lama pendidikan yang diharapkan naik 3,18 tahun
- Rata-rata lama sekolah meningkat 5,48 tahun
- Pendapatan per kapita Indonesia juga naik 199,1% selama periode tersebut.
Laporan UNDP ini menunjukkan Indonesia mengalami kemajuan, tantangan untuk mengurangi ketimpangan dan memastikan manfaat pembangunan untuk semua masih ada. Indonesia diharapkan terus menjaga momentum positif ini untuk pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.