Tawuran Remaja di Belawan Berujung Maut: Warga Duga Suara Tembakan Kapolres adalah Ban Pecah
MEDAN - Insiden tragis menimpa seorang remaja di Belawan, Sumatera Utara, saat terjadi tawuran antar kelompok pemuda. Warga sekitar awalnya mengira suara tembakan yang terdengar berasal dari Kapolres Belawan, AKBP Oloan Siahaan, hanyalah bunyi ban mobil yang pecah. Peristiwa yang terjadi pada Minggu (4/5/2025) dini hari itu, kini menjadi sorotan publik.
Riko, seorang warga yang tinggal di dekat lokasi kejadian, mengungkapkan bahwa pada malam kejadian, ia sedang bersantai di jembatan tak jauh dari tempat tawuran berlangsung. "Memang dini hari itu ada anak muda tawuran. Terus, tiba-tiba ada suara ledakan," ujarnya. "Awalnya kami kira suara ban mobil pecah karena kan jalan tol," tambahnya. Namun, keesokan harinya, Riko terkejut mendengar kabar bahwa seorang remaja menjadi korban penembakan oleh Kapolres Belawan. "Rupanya, besok pagi kami dapat kabar, ada anak sini yang kena tembak sama Kapolres. Kalau suara ledakan itu ada dua kali saya dengar," ungkapnya.
Menurut Riko, aksi tawuran antar remaja di jalan tol tersebut sudah sering terjadi, terutama sejak memasuki bulan Ramadhan. Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi warga sekitar. Sementara itu, Reni, seorang penjual pisang goreng yang berjualan tak jauh dari lokasi, memberikan kesaksian serupa. Ia melihat MS (15), korban penembakan, tergeletak di depan rumah warga setelah kejadian. "Remaja yang meninggal itu sempat tergeletak di teras rumah warga. Dia kesakitan karena perutnya bagian kanan kena luka tembak. Itu dia sampai muntah darah," kata Reni. MS kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Delima oleh teman-temannya, sebelum akhirnya dirujuk ke RS Bhayangkara untuk menjalani operasi. Sayangnya, nyawa MS tidak dapat diselamatkan.
Insiden penembakan ini bermula ketika Kapolres Belawan, AKBP Oloan Siahaan, melintas di Tol Belmera usai dari posko pengamanan tawuran. Ia mendapati sekelompok pelaku tawuran menyerangnya dengan senjata tajam. AKBP Oloan Siahaan kemudian melepaskan tembakan peringatan sebanyak tiga kali. Namun, para pelaku tawuran diduga membalas dengan melempar mercon dan batu. Dalam situasi tersebut, Kapolres Belawan melepaskan tembakan ke arah kaki para pelaku tawuran. Nahas, tembakan tersebut meleset dan mengenai perut MS (15) dan tangan D (17). MS akhirnya meninggal dunia, sementara D masih menjalani perawatan di RS Bhayangkara. Akibat insiden ini, AKBP Oloan Siahaan dinonaktifkan sementara dari jabatannya untuk menjalani proses pemeriksaan lebih lanjut.
Kasus ini masih dalam penyelidikan pihak berwajib untuk mengetahui kronologi kejadian yang sebenarnya dan memastikan tindakan yang diambil sesuai dengan prosedur yang berlaku. Peristiwa ini menjadi pelajaran penting bagi semua pihak untuk meningkatkan pengawasan dan pembinaan terhadap remaja, serta mencari solusi komprehensif untuk mengatasi masalah tawuran yang meresahkan masyarakat.