Keterpurukan Ekonomi Mendorong Warga Bekasi Mengikuti Program Pemindaian Mata WorldID Meski Dihantui Kekhawatiran

Kondisi ekonomi yang sulit dan terbatasnya lapangan pekerjaan telah mendorong sebagian warga Bekasi untuk mencoba peruntungan melalui program pemindaian mata WorldID. Mulyana, seorang warga Kampung Gabus, Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, menjadi salah satu contohnya. Ia mengaku tertarik mengikuti program ini semata-mata karena ingin mendapatkan penghasilan tambahan.

"Saya ikut program ini ingin membantu ekonomi saya, karena kesulitan. Siapa tahu bisa kebantu gitu dengan adanya solusi kayak gini," ungkap Mulyana saat ditemui di sebuah gerai WorldID di Bekasi Timur. Ia datang bersama tujuh anggota keluarganya, namun rencana pemindaian mata mereka tertunda karena gerai tersebut tutup.

Ketertarikan Mulyana dipicu oleh cerita sukses rekannya yang berhasil memperoleh ratusan ribu rupiah per bulan melalui program ini. Ia berharap, dengan mengikuti jejak rekannya, beban ekonomi keluarganya dapat sedikit teratasi.

"Katanya minimal banget Rp 300.000 sebulan. Selama 12 bulan dapatnya," jelasnya.

Meski demikian, Mulyana tak menampik adanya kekhawatiran terkait keamanan data matanya. Apalagi, pemerintah baru-baru ini membekukan layanan WorldID karena adanya laporan aktivitas mencurigakan.

"Ada kekhawatiran, di hati juga ada. Mungkin disalahgunakan apa gimana, tapi yaudahlah mungkin cuma hanya modal ponsel, masa kayak gitu sih," ujarnya dengan nada ragu.

Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kominfo) telah mengambil langkah tegas dengan membekukan sementara tanda daftar penyelenggara sistem elektronik Worldcoin dan WorldID. Keputusan ini diambil menyusul laporan dari masyarakat mengenai aktivitas yang dianggap mencurigakan terkait layanan digital tersebut. Kominfo berencana memanggil perwakilan dari PT Terang Bulan Abadi dan PT Sandina Abadi Nusantara untuk mengklarifikasi dugaan pelanggaran ketentuan penyelenggaraan sistem elektronik dalam layanan Worldcoin dan WorldID.

Hasil investigasi awal menunjukkan bahwa PT Terang Bulan Abadi belum terdaftar sebagai penyelenggara sistem elektronik dan tidak memiliki Tanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik (TDPSE) yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan.

Sementara itu, Tools for Humanity (TFH), perusahaan pengembang layanan Worldcoin dan WorldID, memberikan tanggapan terkait pembekuan layanan mereka di Indonesia. Mereka menyatakan tengah berupaya memahami persyaratan izin dan lisensi yang relevan dan siap untuk mengatasi segala kekurangan atau kesalahpahaman dalam proses perizinan. TFH juga menyampaikan harapan untuk melanjutkan dialog konstruktif dengan pemerintah terkait isu ini.