Kemendukbangga dan IBI Bersinergi dalam Pelayanan KB Serentak Nasional untuk Menekan Angka Kematian Ibu dan Bayi
Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) melalui Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menggandeng Ikatan Bidan Indonesia (IBI) dalam sebuah inisiatif strategis berupa pencanangan Pelayanan KB Serentak. Program ini merupakan respons terhadap tingginya angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Indonesia, dengan fokus pada peningkatan akses dan kualitas pelayanan Keluarga Berencana (KB) di seluruh pelosok negeri.
Pencanangan yang bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) IBI ke-74 dan Hari Bidan Internasional ini menargetkan 1 juta akseptor KB di 34 provinsi di Indonesia, yang akan dilaksanakan mulai tanggal 5 hingga 31 Mei 2025. Prioritas utama dalam pelayanan ini adalah pemasangan alat kontrasepsi dalam rahim (IUD) dengan target memecahkan Rekor MURI untuk 50 ribu akseptor, serta pelayanan KB pasca persalinan.
KB pasca persalinan menjadi fokus utama karena memberikan perlindungan kesehatan reproduksi bagi ibu setelah melahirkan. Metode ini membantu ibu untuk menunda kehamilan berikutnya, yang sangat penting untuk memulihkan kondisi fisik dan mental setelah persalinan. Jarak ideal antara kehamilan dapat mengurangi risiko komplikasi kehamilan dan persalinan, serta meningkatkan kesehatan bayi yang dilahirkan.
Menteri Dukbangga/Kepala BKKBN, Wihaji, menyatakan bahwa program KB bukan hanya tentang mengatur kelahiran, tetapi juga tentang meningkatkan kualitas hidup keluarga Indonesia. Dengan mencegah "empat terlalu" (terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering, dan terlalu banyak melahirkan), program KB berkontribusi pada penurunan AKI dan AKB, serta pencegahan stunting.
"Setiap kehamilan haruslah direncanakan. Setiap anak haruslah lahir dalam cinta dan kesiapan," tegas Wihaji saat memberikan arahan pada acara pencanangan di Tangerang, Banten. Ia juga mengapresiasi peran bidan sebagai garda terdepan dalam memberikan edukasi dan pelayanan KB kepada masyarakat.
Ketua Umum PP IBI, Dr. Ade Jubaedah, menegaskan komitmen IBI untuk mendukung program KB pemerintah. Kolaborasi antara IBI dan Kemendukbangga/BKKBN terwujud dalam slogan "Ada Bidan, Ada KB. Ada KB, Ada Bidan, Dalam Generasi Sehat Menuju Indonesia Emas". Ia menekankan bahwa pelayanan KB harus mengutamakan kualitas, bukan hanya kuantitas, agar memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.
Wihaji menambahkan, keberhasilan program KB pasca persalinan di Indonesia telah diakui secara internasional. Pada tahun 2024, Indonesia menerima penghargaan dari FP2030 atas capaian tertinggi di kawasan Asia Pasifik. Selain itu, Indonesia juga menjadi tuan rumah bagi delegasi Pakistan yang ingin mempelajari keberhasilan program KB pasca persalinan di Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa Indonesia mampu menjadi contoh bagi negara lain dalam upaya meningkatkan kesehatan reproduksi dan kesejahteraan keluarga.
Dengan sinergi antara pemerintah, organisasi profesi, dan partisipasi aktif masyarakat, diharapkan program Pelayanan KB Serentak ini dapat memberikan dampak positif yang signifikan dalam menurunkan AKI dan AKB, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Target Program Pelayanan KB Serentak:
- Menjangkau 1 juta akseptor KB di seluruh Indonesia
- Memecahkan Rekor MURI dengan 50 ribu akseptor IUD
- Memaksimalkan pelayanan KB pasca persalinan
Fokus Program KB:
- Menekan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB)
- Mencegah stunting
- Mencegah 'empat terlalu' (terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering, dan terlalu banyak melahirkan)
- Memastikan setiap kehamilan direncanakan
- Meningkatkan kualitas pelayanan KB