Bupati Banyuwangi Telusuri Hutan Bajulmati: Upaya Jaga Ketahanan Pangan dan Pengembangan Ekowisata
Bupati Banyuwangi Meninjau Waduk Bajulmati Sambil Jelajahi Potensi Ekowisata Hutan
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, melakukan inspeksi mendalam ke Waduk Bajulmati pada hari Senin, 5 Mei 2025. Kunjungan ini bertujuan untuk memastikan kesiapan infrastruktur pengairan dalam menghadapi musim kemarau yang akan datang, serta menggali potensi tersembunyi di kawasan hutan sekitarnya.
Alih-alih menggunakan rute konvensional, Ipuk memilih jalur yang menantang dengan menyusuri kawasan hutan di Desa Bajulmati, Kecamatan Wongsorejo. Perjalanan sejauh 1,3 kilometer ini ditempuh dengan berjalan kaki selama kurang lebih 30 menit. Rute yang dilalui tidaklah mudah, melewati jalan setapak yang berkelok-kelok, melintasi dua sungai kecil, dan menembus hamparan ilalang yang luas.
Selama perjalanan, Ipuk tampak antusias mengamati lingkungan sekitar. Ia melihat potensi besar yang bisa dikembangkan dari kawasan hutan ini. Idenya adalah menjadikan jalur tersebut sebagai atraksi wisata yang menarik, yang dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke Banyuwangi dan memicu inovasi dalam Banyuwangi Festival.
"Kita sudah jalan-jalan bareng tadi, semoga tambah sehat," ujarnya dengan nada optimis, disambut antusias oleh jajarannya.
Selain mengeksplorasi potensi wisata, Ipuk juga fokus pada fungsi utama Waduk Bajulmati sebagai sumber irigasi. Ia memeriksa langsung debit air dan memastikan bahwa ketersediaan air untuk irigasi pertanian, khususnya di Kecamatan Wongsorejo, tetap terjaga.
Waduk Bajulmati: Jaminan Irigasi dan Lumbung Air di Musim Kemarau
Ipuk menjelaskan bahwa Waduk Bajulmati memiliki peran krusial dalam memenuhi kebutuhan air bagi sekitar 1.800 hektar lahan pertanian di Wongsorejo, wilayah yang dikenal rentan kekeringan.
"Insya Allah pasokan air Waduk Bajulmati cukup selama musim kemarau," tegas Ipuk, seraya berharap petani dapat terus bercocok tanam dan panen. Dengan demikian, ketahanan pangan masyarakat dapat terjamin, dan Banyuwangi dapat terus berkontribusi sebagai salah satu lumbung pangan nasional.
Sekretaris Dinas PU Pengairan, Riza Al Fahrobi, menambahkan bahwa Waduk Bajulmati memiliki kapasitas tampung maksimal 10 juta meter kubik (m³). Saat ini, ketinggian air masih berada di angka 87,6 meter, menunjukkan kondisi yang aman untuk menghadapi musim kemarau.
"Airnya cukup untuk mengairi target 1.800 hektar lahan pertanian di wilayah Kecamatan Wongsorejo," jelas Riza.
Air dari Waduk Bajulmati dialirkan ke Dam Bajulmati, kemudian didistribusikan melalui irigasi tersier untuk mengairi lahan pertanian. Selama musim kemarau, debit air yang dikeluarkan dari waduk berkisar antara 2,2 hingga 2,6 meter kubik per detik, tergantung pada kebutuhan air di hilir.
Dengan ketersediaan air yang terjamin, lahan persawahan yang sebelumnya hanya bisa ditanami dua kali setahun, kini berpotensi untuk ditanami tiga kali setahun. Selain untuk irigasi, Waduk Bajulmati juga memiliki fungsi lain, yaitu sebagai sumber air baku untuk konsumsi masyarakat dan kebutuhan industri. Waduk ini memasok air baku sebesar 180 liter per detik dan berperan penting dalam pengendalian banjir.
Ketinggian air waduk dijaga pada level normal, antara 80-87 meter.
"Waduk Bajulmati sendiri ini didesain dengan banyak fungsi, mulai irigasi, penyedia air baku, penahan banjir, konservasi vegetasi, pembangkit listrik, hingga destinasi wisata," pungkas Riza.
Kunjungan Bupati Ipuk ke Waduk Bajulmati bukan hanya sekadar inspeksi rutin, tetapi juga bentuk komitmen pemerintah daerah dalam menjaga ketahanan pangan dan mengembangkan potensi wisata yang berkelanjutan.