Perpustakaan HB Jassin di TIM Kini Buka Hingga Larut Malam, Akses Literasi Semakin Luas
markdown Di jantung Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, bersemi sebuah oase literasi yang kini menyambut para pencinta buku hingga larut malam. Perpustakaan Dokumentasi Sastra HB Jassin, sebuah khazanah sejarah sastra Indonesia, kini membuka pintunya lebih lebar, memberikan kesempatan bagi para pengunjung untuk menyelami dunia kata-kata hingga pukul 22.00 WIB pada akhir pekan.
Langkah ini merupakan wujud komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam meningkatkan aksesibilitas publik terhadap fasilitas literasi. Perpustakaan HB Jassin, yang berlokasi strategis di lantai 4 Gedung Ali Sadikin, telah lama dikenal sebagai pusat dokumentasi sastra terlengkap di ibu kota. Untuk mencapai ruang baca dan koleksi perpustakaan, pengunjung dapat melalui lantai 3 dan 4 dari arah Perpustakaan Jakarta, kemudian melanjutkan perjalanan ke lantai 5 menggunakan tangga atau eskalator. Meskipun eskalator dan lift belum sepenuhnya beroperasi, akses utama melalui Perpustakaan Jakarta tetap memberikan kemudahan bagi para pengunjung.
Memasuki perpustakaan, pengunjung akan disambut oleh suasana tenang dan pencahayaan yang optimal. Dinding kaca yang mengelilingi hampir seluruh ruangan memungkinkan cahaya alami menembus masuk, menciptakan atmosfer yang terang namun lembut, ideal untuk membaca dan merenung. Pantulan sinar matahari menciptakan bayangan yang menari-nari di lantai kayu yang mengkilap, menambahkan sentuhan hangat dan bersahabat pada ruangan.
Di sisi kiri ruangan, rak-rak tinggi menjulang, memamerkan deretan karya-karya monumental HB Jassin yang tersusun rapi. Rak-rak empat tingkat ini menyimpan beragam dokumen, tulisan, dan buku hasil kurasi Jassin selama berkiprah di dunia sastra. Sementara itu, sisi kanan ruangan dipenuhi oleh rak-rak yang menampung koleksi buku sastra dari berbagai genre, mulai dari novel, puisi, naskah drama, hingga esai sastra. Pengunjung dapat menemukan karya-karya dari penulis ternama Indonesia, seperti Tere Liye, Buya Hamka, Ki Hajar Dewantara, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, W.S. Rendra, hingga Sapardi Djoko Damono.
Di bagian tengah dan sudut-sudut perpustakaan, berbagai pilihan tempat duduk tersedia untuk memenuhi preferensi pengunjung. Meja-meja kayu rendah dipadukan dengan bantal duduk berbahan kain, menciptakan ruang yang nyaman untuk bersantai di lantai sambil membaca atau merenung. Bagi mereka yang lebih menyukai tempat duduk konvensional, kursi-kursi yang menghadap langsung ke taman TIM menawarkan pemandangan hijau yang menyegarkan mata dan pikiran.
Tak hanya itu, perpustakaan ini juga memanjakan pengunjung dengan pajangan visual yang memperkaya pengalaman mereka. Lukisan, poster, dan biografi tokoh-tokoh sastra Indonesia menghiasi dinding-dinding perpustakaan. Salah satu yang menarik perhatian adalah poster biodata HB Jassin, yang menampilkan foto dirinya bersama tokoh-tokoh besar lainnya seperti NH Dini, Taufiq Ismail, dan MH Rusli. Terdapat pula poster bertuliskan "HB Jassin: Sastra Indonesia Sebagai Warga Sastra Dunia", kumpulan sajak Taufiq Ismail, dan ilustrasi klasik dari novel legendaris Sitti Nurbaya karya Marah Rusli.
Di bawah deretan poster, rak kayu menampilkan lembaran koran lama yang digantung rapi, menjadi artefak berharga dari sejarah perkembangan sastra Indonesia. Salah satu pajangan yang paling istimewa adalah kotak kaca yang menyimpan tanda tangan asli HB Jassin di atas lempengan kayu, kartu identitas pribadinya, serta sejumlah medali emas dan perak yang diterimanya sebagai pengarsip dan pejuang sastra.
Perpustakaan HB Jassin juga dilengkapi dengan sistem keamanan yang baik, termasuk pintu masuk dan keluar dengan alat pemindai keamanan (security gate). Fasilitas pendukung lainnya, seperti toilet bersih, pencahayaan malam hari yang memadai, dan koneksi internet, juga tersedia untuk memastikan kenyamanan pengunjung.
Dengan perpanjangan jam operasional hingga malam hari, Perpustakaan HB Jassin tidak hanya menjadi ruang baca modern yang memfasilitasi eksplorasi intelektual, tetapi juga menjelma menjadi ruang hidup bagi para pencinta literasi di ibu kota. Kebijakan ini memberikan angin segar bagi mahasiswa, peneliti, dan warga umum yang ingin menikmati buku sastra di waktu senggang mereka. Di balik kaca-kaca besar dan rak-rak yang menyimpan sejarah, Perpustakaan HB Jassin berfungsi sebagai tempat merawat ingatan kolektif tentang sastra Indonesia, menjaganya tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang.