Kontroversi Kuliner: Instruktur Masak Ciptakan Nasi Biryani Permen Karet, Tuai Kritikan Pedas

Kreasi kuliner seringkali menjadi ajang eksperimen dan inovasi, namun tidak semua eksperimen berbuah pujian. Baru-baru ini, seorang instruktur masak di sebuah akademi kuliner menjadi sorotan tajam setelah menciptakan variasi nasi biryani yang tidak lazim: nasi biryani permen karet.

Nasi biryani, hidangan ikonik Asia Selatan yang kaya akan rempah dan cita rasa gurih, umumnya diolah dengan beras basmati dan disajikan dengan daging ayam atau kambing. Namun, Heena Kausar Raad, instruktur masak tersebut, memilih jalur yang berbeda dengan mencampurkan permen karet ke dalam hidangan nasi biryaninya.

Aksi Raad mendemostrasikan kreasi kontroversialnya di depan para muridnya terekam dalam sebuah video yang kemudian viral di media sosial. Dalam video tersebut, tampak nasi biryani dengan warna merah muda yang mencolok, berasal dari permen karet yang telah dicampurkan. Saat diangkat, nasi tersebut menampilkan tekstur yang lengket dan elastis, membuat para muridnya terheran-heran.

"Ini nasi biryani kami, dan hari ini saya akan membuat semua murid saya memakannya. Siapa yang tidak memakannya, maka saya tidak akan memberi sertifikat," ujar Raad dalam video tersebut, dengan nada bercanda. Namun, ketika Raad menawarkan nasi biryani permen karet tersebut kepada murid-muridnya, mereka serempak menolak.

Video tersebut dengan cepat menyebar dan memicu reaksi negatif dari warganet. Banyak yang mengecam kreasi tersebut sebagai tindakan yang tidak pantas dan pemborosan makanan. Beberapa netizen menyuarakan kekecewaan mereka melalui komentar-komentar pedas.

  • "Saya yakin nasi biryani itu gak ada yang makan. Percayalah ini semua demi konten, tolong jangan buang-buang makanan," tulis seorang netizen.
  • "Sangat tidak bijak, siapa yang mau bersedia makan nasi biryani tak menarik itu, saya yakin ini berakhir dibuang," timpal netizen lainnya.

Kontroversi nasi biryani permen karet ini menjadi perdebatan tentang batasan inovasi dalam dunia kuliner. Sementara beberapa orang mungkin menganggapnya sebagai eksperimen kreatif yang unik, yang lain melihatnya sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab dan tidak menghargai makanan.

Terlepas dari pro dan kontra yang muncul, insiden ini menyoroti pentingnya mempertimbangkan dampak dan relevansi sebuah kreasi kuliner sebelum dipublikasikan. Inovasi seharusnya bertujuan untuk meningkatkan pengalaman kuliner, bukan sekadar mencari sensasi atau perhatian semata.