Setahun Nikmati Air Bersih: Kisah Inspiratif Warga Kintamani Atasi Kekeringan dengan Gotong Royong

Setahun Nikmati Air Bersih: Kisah Inspiratif Warga Kintamani Atasi Kekeringan dengan Gotong Royong

Wayan Rusmini, seorang ibu sekaligus petani dari Konyel, Kintamani, Bangli, akhirnya dapat tersenyum lega. Setelah puluhan tahun bergulat dengan kekeringan, kini ia dan masyarakat desanya telah menikmati akses air bersih yang berkelanjutan.

Setahun yang lalu, tepatnya pada Mei 2024, perubahan besar datang menghampiri kehidupan Rusmini. Air bersih mulai mengalir ke rumahnya, mengubah drastis kebiasaan dan kondisi ekonominya. Sebelumnya, mencari air adalah perjuangan berat yang menguras tenaga dan waktu. Ia harus menembus hutan, menyusuri jalanan curam dan terjal, hanya untuk mendapatkan sejeriken air yang tak seberapa. Tak jarang, perjalanan mencari air itu dilakukan malam hari setelah seharian bekerja di ladang.

"Sejak ada air, pengeluaran saya berkurang drastis. Sekarang bisa menabung untuk keperluan dapur dan sekolah anak," ungkap Rusmini dengan mata berbinar. Dulu, untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, ia harus mengeluarkan hampir Rp 500.000 per bulan. Jika tak punya uang, ia terpaksa mengandalkan air hujan yang kualitasnya tak terjamin.

Ironisnya, Konyel terletak tak jauh dari kawasan wisata Kintamani yang gemerlap dengan kafe-kafe modern. Bahkan, Bangli sendiri dikenal sebagai daerah pemasok air terbesar di Bali. Namun, warga Konyel justru kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi ini mendorong Rusmini untuk berjuang demi mendapatkan haknya.

Perjuangan Rusmini tak sia-sia. Dengan bantuan LBH Bali Women Crisis Centre dan dukungan dana dari Konsulat Jenderal Australia, impian warga Konyel untuk memiliki akses air bersih akhirnya terwujud. Rusmini aktif menyuarakan masalah ini, bahkan hingga ke Komnas Perempuan di Jakarta. Pengalaman ini menjadi pengalaman pertama dirinya menginjakkan kaki di Ibu Kota.

"Dulu, yang paling berat adalah ketika diajak bicara ke sana-ke mari dan meninggalkan keluarga, terutama anak-anak. Sebelumnya, tidak pernah mereka saya tinggalkan, walaupun sehari. Tapi dengan perjuangan ini, saya harus meninggalkan mereka, itu yang membuat saya sedih karena selama ini mereka tidak pernah jauh dari saya," kenang Rusmini.

Kini, Rusmini tak hanya menikmati air bersih, tetapi juga dipercaya sebagai koordinator pengelola sarana air di desanya. Ia berharap, dana yang terkumpul dari iuran warga bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan perekonomian kelompok, misalnya untuk memelihara babi dan sapi.

"Astungkara sejauh ini air lancar. Walau kadang ada kendala di mesin, sehingga warna air agak berubah, tapi tidak apa, masih bisa ditangani. Benar-benar bersyukur sekarang tidak perlu lagi membeli air," ungkapnya.

Ni Nengah Budawati, Direktur LBH Bali WCC, mengatakan bahwa perjuangan menghadirkan air bersih ke Konyel bukanlah hal yang mudah. Lokasi sumber air yang jauh dan medan yang sulit menjadi tantangan tersendiri. Namun, berkat kegigihan Rusmini dan dukungan dari berbagai pihak, mimpi itu akhirnya menjadi kenyataan.

"Tak terhingga bahagianya saya saudara-saudara di sana akhirnya bisa merasakan air segar sebagaimana kita di Denpasar. Sangat bangga saya pada masyarakat Konyel atas perjuangan mereka. Semoga air ini bisa memberi berkah dan dipelihara dengan baik," pesan Budawati.

Kisah Rusmini dan warga Konyel adalah contoh nyata bagaimana gotong royong dan keberanian dapat mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Kini, mereka dapat menikmati air bersih, menabung untuk masa depan, dan hidup dengan lebih sejahtera.