Wali Kota Surabaya Imbau Orang Tua Cegah Keterlibatan Anak dalam Perang Sarung dan Beri Sanksi Edukatif
Perang Sarung di Surabaya: Imbauan Orang Tua dan Sanksi Edukatif
Fenomena perang sarung yang kembali marak di Surabaya selama Ramadan 2025 menjadi perhatian serius Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Peristiwa yang terjadi baik sebelum, saat, maupun setelah sahur ini telah mendorong Wali Kota Eri Cahyadi untuk mengeluarkan imbauan khusus kepada orang tua dan menerapkan sanksi edukatif bagi anak-anak yang terlibat. Upaya pencegahan ini dijalankan melalui berbagai strategi, melibatkan kerja sama antara aparat keamanan dan partisipasi aktif masyarakat.
Wali Kota Eri Cahyadi mengungkapkan keprihatinannya atas sulitnya memberantas aksi perang sarung. Patroli gabungan Satpol PP, Kepolisian, dan TNI yang dilakukan hingga pagi hari, seringkali masih terlambat mencegah aksi tersebut. "Seringkali, setelah patroli pukul 03.00 WIB selesai, pukul 04.00 WIB aksi perang sarung kembali terjadi," ujar Eri. Beliau menekankan betapa beratnya beban yang dipikul oleh aparat keamanan dalam menangani masalah ini, dan perlunya pendekatan yang komprehensif melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Salah satu strategi kunci yang diusung Pemkot Surabaya adalah peran aktif orang tua dalam mencegah anak-anak mereka terlibat dalam perang sarung. Eri Cahyadi menghimbau orang tua untuk mengawasi anak-anak mereka dan membatasi aktivitas mereka di luar rumah menjelang sahur. "Mendidik anak bukan hanya soal materi, tetapi juga pengawasan dan kasih sayang. Menghindari anak keluar rumah sebelum sahur adalah salah satu bentuk pencegahan yang efektif," jelas Wali Kota. Sosialisasi intensif kepada orang tua menjadi bagian penting dari strategi ini, guna meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab dalam menjaga keamanan lingkungan.
Selain imbauan kepada orang tua, Pemkot Surabaya juga telah menyiapkan sanksi bagi anak-anak yang kedapatan terlibat perang sarung. Sebagai alternatif hukuman konvensional, sanksi sosial berupa kunjungan dan kegiatan sosial di Lembaga Perlindungan Sosial (Liponsos) akan diberlakukan. Di Liponsos, anak-anak tersebut tidak hanya akan diberikan pembinaan, tetapi juga akan berinteraksi dengan penghuni Liponsos. Hal ini diharapkan dapat memberikan pelajaran berharga tentang kepedulian sosial dan empati.
"Mereka akan belajar merawat penghuni Liponsos, dan memahami pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Tujuannya bukan untuk menghukum, tetapi untuk mendidik dan menanamkan nilai-nilai positif," tambah Eri. Pendekatan ini dirancang untuk membangun kesadaran moral dan menghindari terciptanya dendam atau sikap negatif pada anak-anak yang diberi sanksi. Dengan sentuhan edukatif, diharapkan anak-anak dapat memahami kesalahannya dan tidak mengulanginya di masa mendatang. Pemkot Surabaya berkomitmen untuk terus berupaya menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif selama bulan Ramadan dan seterusnya melalui pendekatan yang humanis dan edukatif.
- Program kunjungan dan perawatan penghuni Liponsos merupakan bagian dari upaya membangun empati dan tanggung jawab sosial pada anak-anak yang terlibat dalam perang sarung.
- Sosialisasi kepada orang tua menekankan pentingnya peran keluarga dalam mencegah keterlibatan anak dalam aksi tersebut.
- Patroli gabungan dari Satpol PP, Kepolisian, dan TNI terus dilakukan untuk mengawasi dan mencegah terjadinya perang sarung.