Devadata Menggugat Lewat 'Lawan': Hardcore Surabaya Berteriak tentang Ketidakadilan
Devadata Menggugat Lewat 'Lawan': Hardcore Surabaya Berteriak tentang Ketidakadilan
Band hardcore legendaris asal Surabaya, Devadata, kembali hadir di kancah musik dengan merilis single terbarunya yang provokatif berjudul "Lawan". Lebih dari sekadar alunan musik keras, lagu ini menjadi wadah bagi Devadata untuk menyuarakan kegelisahan mereka terhadap berbagai persoalan sosial yang masih menghantui negeri ini.
Dengan formasi solid yang terdiri dari Ronald Salindeho pada gitar, Johonas Budhi Pamungkas (Dandu) pada drum, Ody Fajar Pratama pada bass, dan Budho Adhi Saddharmo (Bodas) sebagai vokalis sekaligus gitaris dan pendiri band, Devadata kembali menunjukkan komitmennya untuk berdiri bersama mereka yang tertindas dan melawan segala bentuk ketidakadilan.
"Lawan" adalah cerminan kepedulian Devadata terhadap isu-isu krusial yang dihadapi Indonesia. Lirik-liriknya yang tajam menyoroti berbagai masalah, mulai dari kerusakan lingkungan hidup, pelanggaran hak asasi manusia, hingga praktik korupsi yang merajalela. Melalui vokal Bodas yang penuh semangat, Devadata menyampaikan pesan-pesan perlawanan dengan nada amarah namun tetap tulus.
Video klip "Lawan" juga menjadi representasi visual dari realita pahit yang ingin disampaikan oleh Devadata. Potongan-potongan gambar demonstrasi mahasiswa, kerusakan alam, dan ketimpangan sosial yang mencolok semakin memperkuat pesan yang ingin mereka sampaikan.
"Single ini adalah bentuk protes kami terhadap segala penindasan, terhadap mereka yang merusak lingkungan, maraknya penyelewengan dan semacamnya," tegas Bodas.
Proses kreatif di balik "Lawan" tidaklah instan. Devadata mencurahkan banyak ide, energi, dan ketelitian dalam setiap detail lagu. Mereka bekerja sama dengan Hans D’satria dari Musicology untuk memastikan kualitas mixing dan mastering yang optimal. Dandu mengungkapkan bahwa proses revisi lagu ini mencapai hingga 30 kali, menunjukkan betapa mereka ingin menyajikan karya yang benar-benar sempurna.
Sebagai band yang berasal dari Surabaya, kota yang dikenal dengan semangat kepahlawanannya, Devadata merasa terpanggil untuk menyuarakan perlawanan melalui musik. Mereka ingin menjadi representasi dari suara-suara masyarakat yang terpinggirkan.
Ody Fajar Pratama, personel termuda Devadata, mengungkapkan harapan bahwa lagu-lagu mereka dapat didengar dan dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Sejak awal kemunculannya di skena hardcore Surabaya pada tahun 1998, Devadata telah konsisten mengusung musik keras dengan pesan-pesan yang kuat. Mereka tetap teguh pada jalur metal hardcore, meskipun industri musik seringkali berubah arah.
Bagi Devadata, perbedaan pendapat dan konflik adalah hal yang wajar dalam sebuah band. Yang terpenting adalah saling pengertian dan kemampuan untuk mengambil keputusan demi kemajuan bersama. Mereka tetap fokus pada tujuan mereka, yaitu untuk terus berkarya dan menyuarakan perlawanan.
Perjalanan Devadata selama 27 tahun tidak selalu mudah, namun persahabatan dan semangat untuk terus berkarya menjadi fondasi yang menguatkan mereka. Di tengah industri yang terus berubah dan genre yang tidak selalu mendapatkan perhatian besar, Devadata tetap berjalan, tetap lantang.
Dengan dirilisnya "Lawan", Devadata ingin membuktikan bahwa mereka masih eksis dan akan terus berkarya. Mereka ingin terus menjadi suara perlawanan bagi masyarakat yang tertindas.