Ramadhan Tak Jadi Hambatan: Komitmen Pelari Jakarta Tetap Aktif Jaga Kebugaran

Ramadhan Tak Jadi Hambatan: Komitmen Pelari Jakarta Tetap Aktif Jaga Kebugaran

Di tengah kesibukan dan ibadah puasa Ramadhan, sejumlah warga Jakarta tetap konsisten menjaga kebugaran tubuh melalui olahraga lari. Pantauan di Gelora Bung Karno (GBK) dan Stadion Atletik Rawamangun pada awal pekan kedua Ramadhan menunjukkan pemandangan yang cukup unik: para pelari, dari berbagai usia dan latar belakang, tetap bersemangat berlari menjelang waktu berbuka puasa. Baik yang berlari sendiri maupun berkelompok, mereka membuktikan bahwa puasa bukanlah penghalang untuk tetap aktif dan sehat.

Fenomena ini menarik perhatian karena banyak anggapan bahwa berpuasa akan membatasi aktivitas fisik berat. Namun, Randi Ocktaputra (38), seorang pekerja IT dan anggota komunitas lari 3One, menepis anggapan tersebut. Baginya, konsistensi berlari tetap menjadi prioritas, meski dengan penyesuaian. "Tetap lari, biasanya sebelum berbuka puasa," ujarnya saat ditemui di GBK. "Meski puasa, harus tetap aktivitas sehari-hari, termasuk lari sore untuk jaga kesehatan." Randi, yang mulai gemar lari sejak 2021, menyesuaikan jarak tempuh lari untuk menghindari kelelahan berlebihan selama berpuasa. Ia menekankan pentingnya memahami batas kemampuan tubuh sendiri.

Dyah Kaniasari (64), anggota Adewan Running Academy, menunjukkan semangat yang sama. Di usia senjanya, ia tetap rutin berlatih lari dua kali seminggu dengan program latihan terstruktur. Pengalamannya menunjukkan bahwa olahraga rutin memberikan manfaat kesehatan yang signifikan. "Saya memang sudah biasa aktif dari dulu. Kalau enggak olahraga itu tubuh rasanya sakit-sakit, enggak enak," ungkap Dyah, yang telah konsisten berolahraga sejak usia 40-an. Meskipun merasakan penurunan performa di awal Ramadhan, Dyah berhasil beradaptasi dengan mengurangi durasi latihan, bukan frekuensinya.

Sementara itu, Flora Severine Febriana memilih strategi berbeda. Dengan kesibukan kerja yang padat, ia menyesuaikan frekuensi lari, memilih berlari hanya di akhir pekan. "Di hari kerja aktivitasnya cukup padat. Kalau sore waktunya terlalu mepet, jadi atur waktu buat larinya pas weekend saja," jelasnya. Flora, yang telah menekuni lari sejak 2019, menunjukkan bagaimana fleksibilitas dalam mengatur waktu olahraga tetap memungkinkan, meski dengan jadwal yang padat.

Ketiga pelari ini mengakui merasakan kelelahan saat berlari di bulan puasa. Namun, mereka tetap berkomitmen untuk menjaga kebugaran tubuh. Penyesuaian dilakukan bukan untuk menghentikan aktivitas lari, melainkan untuk mengoptimalkan latihan agar tetap aman dan efektif. Baik Randi yang menyesuaikan jarak, Dyah yang menyesuaikan durasi, maupun Flora yang menyesuaikan frekuensi, semuanya menunjukkan pentingnya mendengarkan kondisi tubuh dan menghindari memaksakan diri. Mereka menjadikan olahraga sebagai bagian integral dari gaya hidup sehat, bukan sekadar untuk pencapaian prestasi.

Kesimpulannya, testimoni dari para pelari ini menunjukkan bahwa komitmen dan penyesuaian yang tepat memungkinkan seseorang untuk tetap aktif berolahraga, bahkan selama bulan puasa Ramadhan. Ini menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk tetap menjaga kebugaran tubuh tanpa mengorbankan ibadah puasa.