Studi Ungkap Potensi Peran Infeksi CMV pada Perburukan Gejala Autisme melalui Ketidakseimbangan Sistem Imun

Studi Ungkap Potensi Peran Infeksi CMV pada Perburukan Gejala Autisme melalui Ketidakseimbangan Sistem Imun

Sebuah studi terbaru menyoroti adanya korelasi signifikan antara infeksi Cytomegalovirus (CMV), disfungsi sistem imun, dan manifestasi perilaku pada anak-anak yang didiagnosis dengan Gangguan Spektrum Autisme (GSA). Temuan ini memberikan perspektif baru dalam memahami kompleksitas GSA melalui pendekatan biomedis.

Isti Anindya, dalam disertasinya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI), menjelaskan bahwa infeksi CMV dapat memperparah ketidakseimbangan sitokin dalam tubuh anak-anak dengan GSA, sebuah aspek yang seringkali terabaikan dalam pendekatan klinis. GSA sendiri merupakan gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi kemampuan komunikasi sosial, memicu perilaku repetitif, dan masalah sensorik, dengan prevalensi global mencapai 1-2% dari populasi.

Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi hubungan antara infeksi CMV, respons imun yang dimediasi oleh sitokin IL-6 dan IL-1β, kadar hormon melatonin, serta gejala perilaku pada anak-anak dengan GSA. Studi ini juga menganalisis faktor genetik, khususnya variasi genetik (SNPs) IL-1B rs1143634 dan IL-6 rs1800796, pada populasi anak-anak di Indonesia.

Metode penelitian melibatkan pendekatan cross-sectional dan case-control, dengan partisipasi 100 anak GSA dan 101 anak tanpa GSA, beserta ibu mereka. Rentang usia anak-anak adalah 2-5 tahun. Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk mengukur biomarker sitokin dan melatonin menggunakan teknik ELISA, serta analisis genetik dengan qPCR. Penilaian perilaku dilakukan dengan instrumen FISH (pola tidur), BAMBI (perilaku makan), SCQ (kemampuan sosial dan komunikasi), dan SSP (profil sensorik).

Penelitian ini mengungkapkan bahwa infeksi CMV sangat umum ditemukan pada kedua kelompok, dengan tingkat seropositif di atas 95%. Namun, terdapat perbedaan signifikan dalam kadar sitokin IL-6 dan IL-1β serta hormon melatonin antara anak-anak GSA dan non-GSA. Anak-anak GSA cenderung memiliki kadar IL-6 yang lebih tinggi, yang mengindikasikan adanya proses inflamasi yang lebih aktif. Selain itu, ditemukan korelasi positif antara Antibody Index IgG CMV dengan kadar IL-6 dan IL-1β pada kelompok GSA, tetapi tidak pada kelompok non-GSA.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa masalah perilaku seperti perilaku makan selektif, gangguan sensorik, dan kesulitan sosial-komunikasi lebih parah pada anak-anak GSA dibandingkan dengan anak-anak tanpa GSA. Terdapat korelasi yang kuat antara gangguan profil sensorik dengan perilaku makan dan kemampuan sosial-komunikasi pada anak-anak GSA. IL-6 tampaknya berperan penting dalam memengaruhi perilaku makan anak-anak autistik, sedangkan IL-1β memengaruhi perilaku makan baik pada anak-anak GSA maupun non-GSA. Namun, penelitian ini tidak menemukan hubungan yang signifikan antara variasi SNPs IL-1B rs1143634 dan IL-6 rs1800796 dengan kejadian GSA atau biomarker imunologi.

Temuan ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan biomedis dalam pemahaman dan penanganan GSA. Kadar IL-6 yang tinggi berpotensi menyebabkan inflamasi di otak, mengganggu fungsi sinaptik, serta memengaruhi nafsu makan dan perilaku. Peningkatan IL-1β juga dapat mengganggu regulasi hipotalamus yang mengatur nafsu makan dan energi tubuh.

Berdasarkan penelitian ini, Isti Anindya merekomendasikan beberapa langkah, termasuk skrining dini infeksi CMV sebagai bagian dari deteksi dini faktor risiko autisme, penelitian longitudinal untuk memantau perubahan biomarker sepanjang perkembangan anak, pemeriksaan genetik lebih lanjut terhadap variasi genetik lain yang mungkin lebih relevan di populasi Indonesia, dan program edukasi komunitas untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kesehatan imunologi pada anak-anak.

Penelitian ini didukung oleh berbagai pihak dan telah dipublikasikan secara internasional, memberikan kontribusi signifikan terhadap pemahaman kita tentang hubungan kompleks antara infeksi CMV, sistem imun, dan GSA.