Rupiah Tertekan: Sri Mulyani Ungkap Dampak Deviasi Kurs terhadap APBN 2025

Mata uang Rupiah mengalami tekanan signifikan terhadap Dolar Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir, bahkan sempat menyentuh level mendekati Rp 17.000 setelah periode libur Lebaran. Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah, terutama karena implikasinya terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, dalam konferensi pers APBN KiTa yang diselenggarakan di Jakarta, mengungkapkan bahwa rata-rata nilai tukar Rupiah hingga akhir Maret 2025 berada di kisaran Rp 16.829 per Dolar AS. Secara year-to-date, nilai tukar Rupiah tercatat sebesar Rp 16.443 per Dolar AS. Angka ini menunjukkan adanya deviasi dari asumsi yang ditetapkan dalam APBN 2025, yaitu Rp 16.000 per Dolar AS.

Menurut Sri Mulyani, ketidakpastian ekonomi global menjadi faktor utama yang memicu pelemahan Rupiah. Kebijakan suku bunga acuan Amerika Serikat yang tidak kunjung turun, akibat inflasi yang masih tinggi dan pasar tenaga kerja yang ketat, turut memperburuk situasi. Kondisi ini menyebabkan arus modal kembali ke Amerika Serikat dan berdampak pada penguatan indeks Dolar.

"Fed Fund Rate menjadi lebih berhati-hati menurunkan suku bunganya dan ini menyebabkan capital flow ke AS atau dalam hal ini menyebabkan dolar indeks menjadi menguat," jelas Sri Mulyani.

Selain itu, ancaman kebijakan tarif impor tinggi yang dilontarkan oleh mantan Presiden AS, Donald Trump, juga menambah sentimen negatif di pasar keuangan. Rencana penerapan tarif resiprokal terhadap sekitar 70 negara mitra dagang AS menciptakan ketidakpastian dan gejolak yang signifikan di sektor keuangan.

"Tindakan drastis dari Presiden AS tersebut mempengaruhi sentimen dan dinamika sektor keuangan sangat signifikan. Ketidakpastian dan dinamika atau kita sebut gejolak dari pasar keuangan sangat besar terjadi di kuartal I tahun ini," lanjut Sri Mulyani.

Data Bloomberg menunjukkan bahwa pada hari ini, Dolar AS diperdagangkan di level Rp 16.607. Kondisi ini mencerminkan pelemahan Rupiah sebesar 154 poin atau 0,92%. Pelemahan ini menjadi perhatian utama pemerintah, dan berupaya untuk menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar Rupiah di tengah gejolak global.