Iran Klaim Gagalkan Serangan Siber Skala Besar di Tengah Ketegangan Nuklir
Iran menyatakan telah berhasil menggagalkan serangan siber yang signifikan terhadap infrastruktur nasionalnya. Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan terkait program nuklir Iran dan perundingan yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat.
Klaim keberhasilan penangkalan serangan siber ini diumumkan oleh pimpinan perusahaan infrastruktur komunikasi Iran, sehari setelah ledakan misterius mengguncang Pelabuhan Bandar Abbas. Insiden ledakan tersebut menimbulkan kerusakan di pelabuhan penting yang merupakan pusat pengiriman peti kemas terbesar di Iran. Penyebab ledakan masih dalam penyelidikan, memicu spekulasi dan kekhawatiran di tengah situasi geopolitik yang sensitif.
Behzad Akbari, pemimpin Infrastructure Communications Company, menyatakan bahwa "salah satu serangan siber paling luas dan kompleks" yang pernah menargetkan infrastruktur Iran telah berhasil diidentifikasi dan dinetralisir. Rincian spesifik mengenai target serangan, metode yang digunakan, atau pihak yang bertanggung jawab tidak diungkapkan secara detail oleh pihak berwenang Iran.
Serangan siber ini terjadi bersamaan dengan pembicaraan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat di Oman, yang membahas isu-isu terkait program nuklir Iran. Perkembangan ini semakin memperumit upaya diplomatik untuk mencapai kesepakatan yang dapat mengurangi ketegangan di kawasan.
Ledakan di Pelabuhan Bandar Abbas memicu berbagai spekulasi, termasuk kemungkinan sabotase. Meskipun penyebab pasti ledakan masih belum dikonfirmasi, Kementerian Pertahanan Iran membantah laporan yang menyebutkan insiden itu disebabkan oleh kesalahan penanganan bahan bakar padat untuk rudal.
Dalam beberapa tahun terakhir, Iran telah menjadi target serangan siber berulang kali, yang seringkali dituduhkan kepada Israel, musuh bebuyutan Iran di dunia maya. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya telah menyerukan penonaktifan total infrastruktur nuklir Iran, yang semakin meningkatkan ketegangan antara kedua negara.
Pada tahun 2021, Iran mengalami serangan siber yang melumpuhkan jaringan pengisian bahan bakar di seluruh negeri, dan Iran menuduh Israel sebagai dalang di balik serangan tersebut. Pada tahun 2023, kelompok peretas bernama "Predatory Sparrow" mengklaim bertanggung jawab atas serangan siber terhadap 70% stasiun pengisian bahan bakar di Iran, dengan alasan bahwa serangan tersebut merupakan pembalasan atas agresi Iran di wilayah tersebut.
Insiden-insiden ini menggarisbawahi kerentanan infrastruktur penting terhadap serangan siber dan meningkatkan kekhawatiran tentang potensi konflik dunia maya yang dapat memiliki konsekuensi yang luas.