Dari Pabrik Pupuk ke Pertanian Berkelanjutan: Kisah Inspiratif Alumni ITB di Karawang
Sri Darmono Susilo, seorang sarjana teknik lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB), mengubah haluan kariernya dari dunia pabrik pupuk menjadi pelopor pertanian sirkular terintegrasi di Karawang, Jawa Barat. Kisah inspiratifnya dimulai sejak merantau ke Karawang pada tahun 1993, di mana ia melihat potensi besar dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan.
-
Awal Mula dari Pabrik Pupuk:
Latar belakang Darmono sebagai pekerja di pabrik pupuk menjadi fondasi penting dalam mengembangkan inovasi pertaniannya. Pengalamannya di Pupuk Indonesia membekalinya dengan pengetahuan mendalam tentang nutrisi tanaman dan potensi pemanfaatan limbah organik. Ide awalnya tercetus ketika ia membeli seekor sapi, yang kemudian menginspirasinya untuk mengolah kotoran sapi menjadi pupuk organik.
-
Inspirasi dari Negeri Ratu Elizabeth:
Kunjungan Darmono ke Inggris memberikan perspektif baru tentang peternakan modern. Ia terkesan dengan teknologi pemisahan sperma pada hewan ternak, yang memicu minatnya untuk mengembangkan bisnis peternakan yang lebih maju. Pengalaman ini memperkuat visinya tentang integrasi antara peternakan dan pertanian.
-
Pengembangan Sistem Pertanian Sirkular Terintegrasi:
Kepercayaan masyarakat menjadi modal utama bagi Darmono dalam mengembangkan usahanya. Ia secara bertahap menambah jumlah sapi dan kambing, serta memperluas bisnisnya ke sektor perikanan, perkebunan rumput, pabrik tahu untuk pakan ternak, lahan sawah, dan rumah makan. Pada tahun 2011, Darmono secara resmi memperkenalkan sistem pertanian sirkular terintegrasi di Desa Dawuan Timur, Cikampek, Karawang.
Sistem ini dirancang untuk menciptakan siklus yang berkelanjutan, di mana limbah dari satu proses menjadi input bagi proses lainnya. Contohnya, kotoran sapi diolah menjadi pupuk organik untuk menyuburkan lahan sawah, sementara ampas tahu dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Dengan demikian, sistem ini mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dan pakan impor, serta meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya.
-
Dampak Ekonomi dan Lingkungan yang Signifikan:
Darmono mengungkapkan bahwa sistem pertanian sirkular terintegrasi telah memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat setempat. Perputaran uang terjadi setiap hari melalui penjualan daging ternak, produk tahu, ikan, dan hasil panen padi. Selain itu, sistem ini juga mengurangi biaya produksi pertanian. Biaya pupuk untuk satu hektar sawah dapat dipangkas lebih dari 50 persen berkat penggunaan pupuk organik hasil fermentasi kotoran sapi.
-
Menjadi Percontohan Nasional:
Keberhasilan Darmono dalam mengembangkan pertanian sirkular terintegrasi telah menarik perhatian Utusan Khusus Presiden Bidang Ketahanan Pangan, Muhammad Mardiono. Proyek ini dijadikan sebagai pilot project untuk mendorong penerapan model pertanian berkelanjutan di seluruh Indonesia. Mardiono menekankan bahwa sistem ini ramah lingkungan karena mengurangi penggunaan pupuk anorganik dan memperbaiki kesuburan tanah. Selain itu, beras yang dihasilkan juga lebih sehat karena bebas dari residu kimia.
-
Harapan untuk Masa Depan Pertanian Indonesia:
Mardiono berharap model pertanian sirkular terintegrasi yang dikembangkan Darmono dapat diterapkan secara luas untuk meningkatkan keberlanjutan sumber daya alam, mendukung program pemerintah dalam penyediaan pangan bergizi, dan menciptakan dampak positif jangka panjang bagi sektor pertanian nasional. Kisah Darmono adalah bukti bahwa dengan inovasi dan komitmen, pertanian dapat menjadi mesin penggerak ekonomi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.