Survei KPK Ungkap Tingginya Angka Kecurangan Akademik di Lembaga Pendidikan Indonesia
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) baru-baru ini merilis hasil Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan tahun 2024, yang menyoroti permasalahan serius terkait kejujuran akademik di kalangan pelajar dan mahasiswa. Survei ini mengungkap bahwa praktik menyontek masih menjadi masalah yang mengakar di sebagian besar lembaga pendidikan di Indonesia.
Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa 78 persen sekolah dan bahkan 98 persen perguruan tinggi masih mendapati kasus menyontek. Temuan ini disampaikan oleh Deputi Bidang Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK, Wawan Wardiana, dalam acara peluncuran Indeks Integritas Pendidikan di Jakarta, pada hari Kamis, 24 April 2025. Angka ini mengindikasikan bahwa kecurangan akademik masih menjadi tantangan besar dalam upaya membangun integritas di dunia pendidikan.
Selain masalah menyontek, survei juga menyoroti praktik plagiarisme yang juga masih marak terjadi, khususnya di lingkungan kampus. Data menunjukkan bahwa 43 persen perguruan tinggi dan 6 persen sekolah masih menemukan kasus plagiarisme. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya orisinalitas dalam karya akademik masih perlu ditingkatkan.
Secara keseluruhan, skor SPI Pendidikan tahun 2024 menunjukkan penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2024, skor yang diraih adalah 69,50, sedangkan pada tahun 2023, skornya mencapai 73,7. KPK menjelaskan bahwa penurunan ini disebabkan oleh cakupan survei yang lebih luas, yang melibatkan responden dari tingkat kabupaten/kota. Dengan demikian, masukan yang diterima dalam survei kali ini menjadi lebih komprehensif.
Wawan Wardiana menjelaskan bahwa angka 69,50 merupakan nilai nasional, dan setiap kabupaten/kota memiliki skor integritasnya masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa masalah integritas pendidikan bervariasi di setiap daerah.
Berikut rincian temuan survei:
- Menyontek: 78% sekolah dan 98% kampus
- Plagiarisme: 6% sekolah dan 43% kampus
Acara peluncuran Indeks Integritas Pendidikan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting di bidang pendidikan, termasuk Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti, Menteri Agama Nassarudin Umar, dan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie.