Amerika Serikat Sambut Baik Usulan Indonesia dalam Negosiasi Tarif
Pemerintah Amerika Serikat memberikan sinyal positif terhadap proposal yang diajukan Indonesia terkait negosiasi tarif dagang. Apresiasi ini disampaikan setelah Indonesia merespons cepat pengumuman tarif resiprokal yang sebelumnya dikeluarkan oleh Presiden AS Donald Trump pada awal April 2025.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa respons dan proposal Indonesia mendapatkan sambutan baik dari pihak AS. Kedua negara sepakat untuk melanjutkan pembahasan secara lebih intensif di tingkat teknis, dengan fokus pada percepatan pembahasan di lima sektor khusus melalui pembentukan working group.
"Secara keseluruhan pemerintah AS mengapresiasi strategi dan pendekatan, serta proposal yang diusulkan oleh Indonesia," ujar Airlangga dalam konferensi pers virtual.
Indonesia telah menandatangani non-disclosure agreement (NDA) dengan Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR), menandakan masuknya Indonesia ke dalam fase negosiasi awal bersama 20 negara lainnya. Langkah selanjutnya, pemerintah Indonesia akan melakukan konsultasi internal dengan para pemangku kepentingan dalam negeri, sambil terus berkomunikasi dengan pihak AS untuk melanjutkan negosiasi di tingkat teknis.
Upaya pendekatan yang dilakukan Indonesia dinilai sangat baik oleh USTR, Departemen Perdagangan AS, dan Departemen Keuangan AS. Semua pihak membuka ruang dialog dan memberikan kesempatan untuk pembahasan teknis secara detail dalam dua minggu mendatang. Momentum ini diharapkan dapat mendorong reformasi struktural yang sedang dilakukan untuk meningkatkan perdagangan dan investasi.
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menambahkan bahwa proposal yang diajukan Indonesia termasuk yang paling lengkap dan detail. Hal ini menjadi modal awal yang kuat bagi posisi Indonesia dalam proses perundingan.
"Indonesia mendapatkan apresiasi atas respons untuk berdialog dan untuk melakukan negosiasi. Kedua, yang dihargai adalah proposal Indonesia termasuk proposal yang paling lengkap dan detail yang menggambarkan suatu kerja sama yang saling menguntungkan," kata Sri Mulyani.
Sri Mulyani juga menekankan bahwa negosiasi untuk melakukan reformasi dan deregulasi ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, yang bertujuan untuk kepentingan Indonesia sendiri, serta untuk memecahkan masalah bilateral maupun global. Feedback positif ini akan menjadi bekal bagi Indonesia untuk terus melakukan pembahasan di level teknis, dengan harapan memberikan manfaat bagi perekonomian Indonesia, regional, dan dunia.