TPA Cahaya Kencana di Ambang Penutupan: Antara Prestasi Adipura dan Tantangan Pengelolaan Sampah
Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, tengah menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah. TPA Cahaya Kencana, yang dulunya menjadi kebanggaan dan percontohan nasional dengan tujuh piala Adipura Kencana berkat penerapan sanitary landfill, kini terancam ditutup. Ancaman ini muncul seiring dengan rencana penutupan ratusan TPA di seluruh Indonesia pada tahun 2025 yang masih menggunakan metode open dumping. TPA Basirih di Banjarmasin menjadi salah satu contoh nyata TPA yang harus ditutup karena metode pengelolaan yang tidak sesuai standar.
Kondisi TPA Cahaya Kencana saat ini memprihatinkan. Adi Winoto, Kepala UPT Pengelolaan Sampah dan Limbah Kabupaten Banjar, mengakui bahwa keterbatasan lahan dan peningkatan volume sampah menjadi penyebab utama penurunan kualitas pengelolaan. Dengan volume sampah mencapai 60 ton per bulan dan lahan seluas 16,5 hektare yang sudah over capacity, TPA Cahaya Kencana kesulitan mempertahankan metode sanitary landfill yang dulu diunggulkan. Proses revitalisasi lima zona TPA yang ditargetkan selesai dalam 120 hari sejak sanksi dijatuhkan pada 24 Desember 2024, baru mencapai 40 persen. Permohonan perpanjangan waktu telah diajukan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), namun target 100 persen revitalisasi tampaknya sulit tercapai dalam waktu dekat.
Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Banjar, Abdul Razak, mengungkapkan kekhawatirannya bahwa penutupan TPA Cahaya Kencana akan menimbulkan masalah baru yang lebih besar jika revitalisasi tidak dilakukan secara maksimal. Ia menyarankan agar TPA tidak hanya berfungsi sebagai tempat pembuangan sampah, tetapi juga sebagai pusat daur ulang (PDU) untuk mengelola sampah secara berkelanjutan. Senada dengan hal tersebut, Kepala Bidang PSLB3 DPRKPLH Banjar, Sutiyono, menyoroti kurangnya sinergi antarinstansi dan minimnya sosialisasi kepada masyarakat sebagai faktor yang memperparah kondisi pengelolaan sampah. Fokus yang berlebihan pada penanganan sampah di hulu tanpa memperhatikan hilirnya juga menjadi kendala utama.
Saat ini, proses revitalisasi TPA Cahaya Kencana terus berjalan dengan mengerahkan empat alat berat. Namun, satu di antaranya mengalami kerusakan, dan anggaran sebesar Rp 5,3 miliar dinilai belum mencukupi untuk mengatasi semua rintangan di lapangan. Masa depan TPA Cahaya Kencana, yang pernah menjadi simbol keberhasilan pengelolaan sampah di Indonesia, kini berada di ujung tanduk. Upaya perbaikan terus dilakukan, namun tantangan yang dihadapi sangat besar dan membutuhkan komitmen serta sinergi dari semua pihak.