Waspada! Ahli Kesehatan Ingatkan Bahaya Fatal Demam Berdarah Dengue

Demam Berdarah Dengue (DBD) menjadi perhatian serius di Indonesia, dengan angka kematian yang mengkhawatirkan. Seorang dokter spesialis penyakit dalam menekankan bahwa penyakit ini tidak boleh dianggap enteng karena potensinya yang mematikan, jauh lebih besar dibandingkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Pernyataan ini muncul di tengah upaya pemerintah untuk menekan angka kasus dan kematian akibat DBD di tanah air.

Data terbaru menunjukkan bahwa pada tahun 2024, Indonesia mencatat 1.400 kasus kematian akibat DBD. Jumlah ini setara dengan 10% dari total kematian global akibat penyakit tersebut. Hal ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kontribusi kematian DBD tertinggi di dunia. Fakta ini menjadi alarm bagi masyarakat untuk lebih meningkatkan kewaspadaan dan pemahaman tentang bahaya DBD.

Dokter tersebut juga menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat akan bahaya DBD sebagai faktor utama tingginya angka kasus dan kematian. Ia mengatakan, jika masyarakat menyadari potensi mematikan dari penyakit ini, seharusnya tidak ada lagi anggapan remeh terhadap DBD. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah menargetkan nol kematian akibat DBD pada tahun 2030. Target ini akan dicapai melalui berbagai strategi, termasuk:

  • Pencegahan: Upaya pencegahan menjadi fokus utama dalam menekan penyebaran DBD. Hal ini meliputi pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan cara 3M Plus (Menguras, Menutup, Mendaur ulang, plus mencegah gigitan nyamuk), serta edukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
  • Deteksi Dini: Deteksi dini kasus DBD sangat penting untuk mencegah komplikasi dan kematian. Masyarakat diimbau untuk segera memeriksakan diri ke dokter jika mengalami gejala demam tinggi, nyeri otot dan sendi, serta ruam kulit.
  • Inovasi Pengobatan: Pengembangan inovasi pengobatan DBD, seperti vaksin dengue, juga menjadi bagian dari strategi pemerintah. Vaksin dengue diharapkan dapat memberikan perlindungan bagi masyarakat yang berisiko tinggi terinfeksi DBD.

Organisasi kesehatan dunia seperti Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan jurnal Lancet Infectious Diseases memberikan rekomendasi terkait langkah-langkah pencegahan DBD yang efektif:

  • Eliminasi Sarang Nyamuk: Tindakan ini meliputi penutupan rapat tempat penampungan air, pembuangan wadah yang berpotensi menampung air, dan pembersihan talang air secara rutin. Langkah ini sangat efektif dalam mengurangi populasi nyamuk Aedes aegypti, vektor utama pembawa virus dengue.
  • Penggunaan Repelan dan Kelambu: Penggunaan obat oles anti nyamuk yang mengandung DEET atau picaridin, serta tidur menggunakan kelambu, terbukti efektif dalam mengurangi risiko gigitan nyamuk, terutama di wilayah endemis DBD.
  • Vaksinasi Dengue: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan vaksin Dengvaxia untuk individu berusia 9-45 tahun yang sebelumnya pernah terinfeksi dengue. Vaksin ini terbukti dapat menurunkan risiko rawat inap dan kematian akibat infeksi ulang.
  • Fogging Terjadwal dan Pemantauan Jentik: Meskipun efeknya sementara, fogging tetap efektif dalam membasmi nyamuk dewasa jika dilakukan secara berkala dan diiringi dengan edukasi masyarakat tentang pentingnya pemberantasan sarang nyamuk.

Dengan meningkatkan kesadaran dan menerapkan langkah-langkah pencegahan yang efektif, diharapkan angka kasus dan kematian akibat DBD di Indonesia dapat ditekan secara signifikan. Masyarakat diharapkan aktif berpartisipasi dalam upaya pencegahan DBD demi mewujudkan Indonesia bebas DBD.