Indonesia dalam Pusaran Persaingan AS-China: Antara Peluang dan Tantangan

Indonesia di Tengah Ketegangan Ekonomi Global: Peluang dan Risiko

Gelombang persaingan ekonomi antara Amerika Serikat dan China semakin terasa dampaknya di berbagai belahan dunia. China, sebagai respons terhadap kebijakan tarif tambahan yang diterapkan oleh AS, tidak hanya memberlakukan tarif balasan, tetapi juga mengeluarkan peringatan keras kepada negara-negara yang bernegosiasi dengan AS terkait tarif impor. Langkah ini dipicu kekhawatiran bahwa negosiasi tersebut dapat mengancam stabilitas ekonomi Tiongkok.

Kementerian Perdagangan China menyatakan bahwa mereka menentang segala bentuk kesepakatan yang mengorbankan kepentingan Tiongkok. Ancaman tindakan balasan tegas dan sepadan akan diambil jika hal tersebut terjadi.

Di tengah situasi ini, Indonesia berupaya mencari celah untuk mendapatkan keuntungan. Tiga menteri utusan Presiden Prabowo telah melakukan kunjungan ke AS untuk melakukan negosiasi terkait tarif dan kerja sama bilateral. Airlangga Hartarto, salah satu utusan tersebut, mengungkapkan bahwa Indonesia ingin menciptakan hubungan perdagangan yang adil dan berimbang dengan AS. Beberapa poin penting yang dibahas meliputi:

  • Peningkatan pembelian energi dari AS, seperti LPG, minyak mentah, dan gasoline.
  • Pembelian produk agrikultur dari AS, termasuk gandum, kedelai, dan susu kedelai.
  • Peningkatan pembelian barang modal dari AS.
  • Penguatan kerja sama di sektor pengembangan SDM, khususnya di bidang pendidikan, sains, teknik, matematika, dan ekonomi digital.
  • Pembahasan isu financial services yang dinilai cenderung menguntungkan AS.

Sejumlah pihak melihat kondisi ini sebagai blessing in disguise. Memanasnya perang dagang antara AS dan China dianggap membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi. Ketua Komisi XI, Misbakhun, menyatakan bahwa Indonesia menjadi salah satu negara dengan angka pajak terendah di Asia Tenggara, sehingga menarik bagi investor.

Namun, pertanyaan yang muncul adalah, apakah langkah Indonesia yang mendekat ke AS tidak akan memicu reaksi negatif dari China? Mohammad Faisal, Direktur CORE Indonesia, akan membahas lebih lanjut mengenai skenario yang perlu disiapkan untuk menghadapi potensi dampak dari perang dagang ini.

Selain itu, program Editorial Review juga akan membahas mengenai berita wafatnya Paus Fransiskus, Pemimpin Umat Katolik di seluruh dunia. Thomas Ulun Ismoyo, Pr, Juru Bicara Panitia kunjungan Paus ke Indonesia, akan memaparkan sosok Paus Fransiskus dan perannya dalam menciptakan kedamaian dunia.

Menutup acara, Firman Marihot, ahli perencanaan keuangan, akan membahas strategi kelompok contrarian dalam meraih keuntungan di pasar saham. Kelompok ini berani mengambil risiko dengan membeli saham saat investor lain cenderung panik menjual. Strategi apa yang bisa dipelajari dari para contrarian ini?

Saksikan ulasan mendalam berita-berita hangat dalam program Detik Sore yang disiarkan secara langsung setiap Senin-Jumat pukul 15.30-18.00 WIB di 20.detik.com dan TikTok detikcom. Ikuti juga analisis pergerakan pasar saham menjelang penutupan IHSG. Sampaikan komentar Anda melalui kolom live chat yang tersedia.