Batik Lasem Berkelanjutan Merambah Pasar Internasional, Dipamerkan di Meksiko dan Belgia
Karya batik Lasem yang mengusung konsep ramah lingkungan, hasil binaan Bank Indonesia Jawa Tengah, kini menorehkan prestasi di kancah internasional. Brand Jagad Phoenix berhasil memamerkan koleksinya dalam ajang fashion bergengsi di Meksiko dan Belgia, menandakan apresiasi global terhadap produk lokal yang berkelanjutan.
Batik Lasem yang ditampilkan, berasal dari Rembang, Jawa Tengah, memiliki keunggulan dalam penggunaan pewarna alami. Komposisi pewarna alami mencapai 80 persen, menunjukkan komitmen terhadap minimisasi limbah dan pengelolaan yang bertanggung jawab dalam seluruh rantai produksi. Langkah ini sejalan dengan tren global yang semakin peduli terhadap isu lingkungan dalam industri fashion.
Yulia Ayu, Project Manager Kartini Bangun Negeri (Kabari), mengungkapkan rasa bangganya atas pencapaian ini. "Produk Jagad Phoenix berhasil menyasar pasar Meksiko dan Belgia. Pasar Eropa sangat tertarik dengan warna indigo yang kami gunakan," ujarnya di Rumah Canting Urup.
Untuk menarik minat pasar global, Jagad Phoenix terus berinovasi dengan mengembangkan motif Lasem yang lebih modern dan desain pakaian ready to wear yang sesuai dengan tren terkini. Tujuannya adalah agar batik dapat dikenakan secara kasual sehari-hari, tanpa terkesan terlalu formal. Strategi ini terbukti berhasil, dengan puluhan produk yang laku terjual di pasar internasional, sebagaimana diperlihatkan melalui konten media sosial brand.
"Kami ingin menciptakan produk yang minimalis namun tetap menonjolkan visual, motif, inspirasi, budaya, dan sejarah Lasem," jelas Yulia. Jagad Phoenix menargetkan kaum muda yang memiliki kesadaran tinggi terhadap sustainable fashion dan isu lingkungan. Mereka menghargai produk yang diproduksi secara bertanggung jawab, meskipun dengan biaya produksi yang relatif lebih tinggi dan jumlah yang terbatas.
Kabari, sebagai wadah bagi Jagad Phoenix, saat ini membina enam rumah batik, lima penjahit, dan beberapa ilustrator. Ilustrator berperan penting dalam menciptakan pola baju dan motif-motif baru yang terinspirasi dari sejarah dan budaya Lasem.
Acara tersebut turut dihadiri oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, Rahmat Dwisaputra, dan jajaran Forkompimda Kabupaten Rembang. Rahmat Dwisaputra mendorong perempuan penggiat UMKM hingga para pengusaha di pabrik untuk menerapkan ekonomi hijau yang ramah lingkungan.
Menyadari potensi besar batik Lasem, Rahmat Dwisaputra mendorong penerapan ekonomi hijau yang ramah lingkungan di kalangan pengusaha dan penggiat UMKM. "Kami ingin mewujudkan sustainable fashion dengan batik berwawasan lingkungan dan pewarna alami, didukung oleh Jarum Foundation melalui penanaman pohon indigo. Ke depan, kami juga akan mengembangkan bibit warna merah dari tanaman mengkudu," ungkapnya.
Acara yang didukung oleh BI Jawa Tengah dan Djarum Foundation ini juga dimeriahkan dengan berbagai lomba, seperti Ngadi Busana (fashion show), Ngadi Sarira (lomba rias), kreasi hantaran menggunakan kain batik Lasem, dan vlog ajakan berkunjung ke Museum Kartini. Selain itu, diadakan karnaval pelajar dan lomba sketsa di Rumah Canting Urup.