Kremlin Sinyalkan Kesediaan Berdialog Langsung dengan Ukraina di Tengah Tekanan Internasional

Rusia membuka peluang perundingan bilateral langsung dengan Ukraina, sebuah langkah yang belum pernah terjadi sejak awal konflik. Presiden Vladimir Putin menyampaikan kesediaannya untuk berdiskusi, sementara Presiden Volodymyr Zelenskyy menyatakan kesiapan untuk menjajaki segala opsi demi menghentikan serangan terhadap wilayah sipil.

Tekanan internasional, terutama dari Amerika Serikat, menjadi salah satu faktor pendorong inisiatif ini. AS mengisyaratkan akan menarik diri dari upaya mediasi jika tidak ada kemajuan signifikan yang dicapai. Rusia dan Ukraina sebelumnya menyepakati gencatan senjata Paskah selama 30 jam, namun kedua belah pihak saling menuduh melakukan pelanggaran.

Perundingan yang direncanakan akan berlangsung di London pada minggu ini, dengan delegasi Ukraina yang akan bertemu dengan perwakilan dari Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari diskusi sebelumnya di Paris, di mana AS dan negara-negara Eropa membahas strategi untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama lebih dari tiga tahun. Putin menyoroti bahwa pertempuran kembali berkecamuk setelah gencatan senjata Paskah yang dideklarasikannya secara sepihak. Ia menegaskan keterbukaannya terhadap inisiatif perdamaian apa pun dan mengharapkan respons yang sama dari pihak Ukraina.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menambahkan bahwa pernyataan presiden mengenai kemungkinan membahas masalah tidak menyerang target sipil, termasuk secara bilateral, mengindikasikan kesediaan untuk bernegosiasi dan berdiskusi dengan pihak Ukraina. Terakhir kali perundingan langsung antara kedua belah pihak terjadi adalah pada minggu-minggu awal invasi Rusia pada Februari 2022.