Paus Fransiskus Berpulang: Warisan Kemanusiaan Universal Dikenang
Dunia berduka atas wafatnya Pemimpin Gereja Katolik, Paus Fransiskus, pada usia 88 tahun. Kabar duka ini sontak menyebar dan menuai ungkapan belasungkawa dari berbagai tokoh lintas agama dan negara, termasuk dari Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI).
Ketua Majelis Pertimbangan PGI, Pendeta Gomar Gultom, menyampaikan rasa kehilangan mendalam atas kepergian Paus Fransiskus. Beliau mengenang Paus Fransiskus sebagai sosok yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan tanpa memandang perbedaan keyakinan. Pendeta Gomar Gultom mengatakan bahwa Paus Fransiskus telah menyelesaikan pertandingan di dunia ini dan memenangkannya.
"Beliau telah menorehkan jejak yang begitu mendalam, karena beliau menempatkan kemanusiaan dan persaudaraan di atas segala-galanya. Beliau telah mengajarkan kepada kita, kemanusiaan dan persaudaraan harus melebihi batas-batas agama, bahkan melampaui pilihan iman," ungkap Pendeta Gomar Gultom.
Pendeta Gomar Gultom juga menyoroti gaya hidup Paus Fransiskus yang sederhana dan bersahaja. Menurutnya, kesederhanaan Paus Fransiskus merupakan teladan kepemimpinan yang langka di era modern yang cenderung materialistis.
"Beliau juga mengajarkan kepada kita menjalani kehidupan ini secara substansial, dan tidak usah dibelenggu oleh ragam ornamen dunia ini. Jabatan baginya adalah pelayanan dan tak harus silau oleh fasilitas. Hidup dengan sangat sederhana, sikap kepemimpinan yang sangat langka di tengah dunia yang makin materialis," imbuhnya.
Paus Fransiskus terpilih menjadi Paus pada tahun 2013, menggantikan Paus Benediktus XVI yang mengundurkan diri karena alasan kesehatan dan usia. Selama masa kepemimpinannya, Paus Fransiskus dikenal dengan pendekatan pastoralnya yang inklusif dan perhatiannya terhadap isu-isu sosial seperti kemiskinan, perubahan iklim, dan perdamaian.
Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Paus Fransiskus sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat pneumonia. Meskipun sempat muncul di publik setelah perawatan, kondisi kesehatannya terus menurun hingga akhirnya berpulang pada hari Senin (21/4).
Wafatnya Paus Fransiskus meninggalkan duka mendalam bagi umat Katolik di seluruh dunia dan bagi semua orang yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan persaudaraan. Warisan kepemimpinannya akan terus dikenang dan menjadi inspirasi bagi banyak orang.