Instaxnesia: Kolaborasi Kreatif 35 Seniman Indonesia dalam Artbook Unik

Sebuah artbook bertajuk "Instaxnesia: A Nation of Creative Expression" hadir sebagai wadah kolaborasi unik yang mempertemukan 35 seniman dan pelaku kreatif Indonesia. Diterbitkan oleh Pear Press bekerja sama dengan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), buku ini menampilkan karya-karya inovatif yang memanfaatkan media fotografi instan, Instax.

Aver Supriyanto, Senior Graphic Designer Pear Press, menjelaskan bahwa artbook ini bertujuan untuk mengeksplorasi cara kreatif para seniman dalam menggunakan Instax sebagai medium ekspresi seni mereka. "Fotografi adalah medium mereka berkarya. Di artbook ini, kita bisa melihat beragam Instax dari yang Potrait, Square, dan tentunya nama-nama kolaborator ini sudah terkenal di Indonesia. Mereka menggunakan Instax dengan cara yang inovatif dan kreatif," ujarnya.

Buku setebal lebih dari 200 halaman ini menampilkan beragam karya seni, mulai dari seni instalasi, dokumentasi, hingga respons terhadap medium Instax itu sendiri. Para seniman yang terlibat dibagi ke dalam empat kategori:

  • Pekerja Visual: Diwakili oleh Wastana Haikal, Karin Josephine, Hana Madness, dan lainnya.
  • Karangan dan Pertunjukan: Diwakili oleh Lala Bohang, Miyu, dan Gina S. Noer.
  • Bebunyian dan Musik: Menghadirkan kontribusi dari Ifa Fachir, Suneater, Laze, dan sejumlah musisi lainnya.
  • Platform dan Kolektif: Terdapat nama-nama seperti TacTic Plastic, Grafis Nusantara, Special Hub Indo, serta berbagai kolektif kreatif lainnya.

Hana Madness, seorang seniman visual dan pegiat mental health, mengungkapkan bahwa ia menggunakan Instax sebagai medium untuk menyampaikan keresahan yang ada di dalam dirinya. Ia menciptakan karya dengan ciri khas karakter "Joy Faces" dari material kardus daur ulang. "Orang yang mati dari kesedihan bertransformasi lebih colourful untuk saat ini. Aku bawa ini ke dalam karyaku yang dari kardus. Ketika sudah basah, hancur, bisa didaur ulang sampai akhirnya aku menyisipkan joy of faces, karakter yang punya meaning banget buat aku sebagai manusia," jelasnya.

Sementara itu, seniman visual Karin Josephine mendokumentasikan jurnalnya melalui Instax. Ia menuliskan suara-suara dan hambatan yang ia hadapi dalam berkarya. "Sejak 2018, ini penerimaan sudah jauh sebelumnya ya. Keadaan aku menimbulkan pergulatan mental, disitulah aku menemukan keseimbangan antara Instax dan jurnal yang aku geluti," ungkap Karin.

Artbook "Instaxnesia: A Nation of Creative Expression" menjadi bukti nyata bagaimana seni dan teknologi dapat bersinergi untuk menghasilkan karya-karya yang inspiratif dan menggugah.