Kemacetan di Tanjung Priok: INSA Serukan Kolaborasi dan Hindari Saling Menyalahkan

Pelabuhan Tanjung Priok mengalami kemacetan yang signifikan, memicu reaksi dari berbagai pihak. Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Pemilik Pelayaran Nasional Indonesia (INSA) menyerukan kepada seluruh pemangku kepentingan untuk bekerja sama dan saling mendukung dalam mengatasi permasalahan ini.

Ketua Umum DPP INSA, Carmelita Hartoto, menekankan pentingnya menahan diri untuk tidak saling menyalahkan atas kemacetan yang terjadi. Menurutnya, peningkatan kegiatan ekspor di Pelabuhan Tanjung Priok adalah indikasi positif bagi perekonomian Indonesia, terutama di tengah tekanan ekonomi global.

"Memang terjadi kemacetan yang harus jadi catatan perbaikan ke depan, tapi peningkatan kegiatan ekspor di Pelabuhan Priok di tengah tekanan tarif resiprokal adalah berkah tersendiri yang mesti disyukuri," ujar Carmelita.

INSA telah berkoordinasi dengan Pelindo, operator Pelabuhan Tanjung Priok, terkait kondisi kemacetan. Pelindo disebut responsif dan telah mengambil langkah-langkah seperti memaksimalkan area buffer dan lapangan sebagai kantong parkir serta mengalihkan lalu lintas truk ke gate pos 9.

Carmelita juga memahami bahwa Pelindo tengah berupaya mengatasi kemacetan dalam jangka panjang, termasuk membangun jalan untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di tol dan jalan arteri sekitar pelabuhan. Namun, proyek ini membutuhkan waktu dan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Pekerjaan Umum dan Pemprov DKI Jakarta.

"Bukan saatnya kita saling menyalahkan, tapi kita harus mendorong Pelindo untuk lebih baik ke depan dengan memberikan layanan terbaik, termasuk pencegahan kemacetan jalan masa depan," tegasnya.

Kemacetan di Pelabuhan Tanjung Priok dan sekitarnya disebabkan oleh peningkatan aktivitas bongkar muat ekspor. Salah satu titik kemacetan terparah adalah di NPCT 1, akibat lonjakan volume kendaraan yang melakukan kegiatan receiving delivery peti kemas. Meski demikian, kegiatan bongkar muat tetap berjalan lancar dan tidak ada gangguan sistem di gate pelabuhan maupun terminal peti kemas.

Pelindo sendiri menargetkan penyelesaian kemacetan pada Minggu, 20 April 2025. Executive Director Regional 2 PT Pelabuhan Indonesia, Drajat Sulistyo, menyatakan bahwa pihaknya bersama KSOP, regulator, Polres Pelabuhan, dan pemangku kebijakan lainnya terus berupaya mengurai kemacetan.

Beberapa upaya yang dilakukan Pelindo antara lain melakukan shifting atau memindahkan terminal bongkar muat dari yang padat ke terminal yang lebih kosong. Hal ini dilakukan setelah mendapatkan permintaan dari regulator untuk melakukan bongkar muat dengan pengawasan ketat.

"Ini sudah kami desain dan putuskan jumlah kapal yang akan dipindahkan bongkar muatnya," kata Drajat.

Menurutnya, kemacetan diperparah oleh keterlambatan kedatangan tiga kapal kargo besar dan adanya libur panjang yang membuat konsumen ingin segera mengambil kontainer mereka. Akibatnya, terjadi lonjakan order hingga 4.200 truk yang datang bersamaan, menyebabkan kemacetan panjang menuju dan keluar pelabuhan.