Kesalahan Identifikasi Pasien Hampir Berakibat Fatal: Pria di India Nyaris Menjalani Operasi yang Tidak Diperlukan

Insiden mengejutkan terjadi di sebuah rumah sakit di India, di mana seorang pria bernama Jagdish hampir menjadi korban kesalahan identifikasi pasien yang berujung pada tindakan operasi yang tidak seharusnya ia jalani. Peristiwa ini bermula ketika Jagdish, seorang pria berusia 60 tahun, tengah berada di rumah sakit untuk mendampingi putranya, Manish, yang baru saja mengalami kecelakaan serius dan membutuhkan tindakan operasi.

Pada tanggal 12 April 2025, Manish dijadwalkan untuk menjalani operasi. Sementara Manish berada di ruang operasi, Jagdish menunggu dengan cemas di luar. Saat itulah, beberapa staf dari departemen bedah kardiotoraks dan vaskular rumah sakit memanggil nama 'Jagdish'. Tanpa curiga, Jagdish mengangkat tangannya, dan para staf segera membawanya ke ruang operasi lain. Ironisnya, terdapat pasien lain dengan nama yang sama, Jagdish, yang seharusnya menjalani prosedur medis tersebut.

Karena riwayat stroke yang menyebabkan gangguan bicara, Jagdish kesulitan untuk mengomunikasikan bahwa dirinya bukanlah pasien yang dimaksud. Para petugas medis, tanpa melakukan verifikasi lebih lanjut, langsung memulai prosedur pemasangan fistula dialisis di lengan kirinya. Fistula dialisis adalah sambungan yang dibuat melalui pembedahan antara arteri dan vena untuk mempermudah akses darah, biasanya diperlukan bagi pasien gagal ginjal yang membutuhkan dialisis rutin.

Kejadian ini baru terungkap ketika seorang dokter menyadari adanya kesalahan identifikasi pasien. Prosedur pemasangan fistula dialisis segera dihentikan, dan luka di lengan Jagdish ditutup. Namun, insiden ini telah menimbulkan trauma dan kekhawatiran yang mendalam bagi Jagdish dan keluarganya.

Manish, putra Jagdish, mengungkapkan kekecewaannya dan menuntut pertanggungjawaban dari pihak rumah sakit atas kelalaian tersebut. Ia menceritakan kebingungannya ketika keluar dari ruang operasi dan tidak menemukan ayahnya. Setelah mencari tahu, ia mendapati ayahnya justru dibawa ke ruang operasi lain.

"Ayah saya dibawa keluar saat saya dibawa untuk dioperasi. Saat saya dibawa keluar dari ruang operasi setelah operasi, saya tidak melihatnya," cerita Manish.

"Saya dibawa ke bangsal dan saya memberitahu petugas bahwa saya tidak menemukan ayah saya. Seseorang mengatakan ia telah dibawa untuk dioperasi. Saya bertanya operasi apa, ia bersama saya," sambungnya.

Pihak rumah sakit merespons kejadian ini dengan membentuk komite investigasi yang terdiri dari tiga orang. Komite ini bertugas untuk menyelidiki secara menyeluruh penyebab terjadinya kesalahan identifikasi pasien dan memberikan laporan rekomendasi untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.

Insiden ini menjadi sorotan tajam terhadap pentingnya protokol identifikasi pasien yang ketat di rumah sakit. Kesalahan identifikasi pasien dapat berakibat fatal, menyebabkan tindakan medis yang tidak perlu, penundaan pengobatan yang tepat, dan bahkan kematian. Rumah sakit memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap pasien diidentifikasi dengan benar sebelum prosedur medis apa pun dilakukan.