Antraks Merebak, Gunungkidul Perketat Lalu Lintas Ternak di Dua Kapanewon
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengambil langkah tegas dengan memberlakukan pembatasan lalu lintas ternak di dua Kapanewon yang teridentifikasi adanya kasus antraks. Kebijakan ini diambil sebagai upaya preventif untuk mencegah penyebaran penyakit mematikan tersebut ke wilayah lain.
Kapanewon Rongkop dan Girisubo menjadi fokus utama dalam pengendalian antraks ini. Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menyatakan bahwa tindakan penyemprotan disinfektan dan vaksinasi secara menyeluruh akan segera dilakukan di kedua wilayah tersebut. Selain itu, aktivitas jual beli ternak dari dan keluar wilayah terdampak dihentikan sementara waktu untuk memutus rantai penularan.
"Untuk sementara, dua kapanewon yang terpapar akan dilakukan penyemprotan dan vaksinasi secara menyeluruh. Untuk sementara waktu, tidak boleh ada transaksi keluar dari sana supaya tidak menularkan," tegas Bupati Endah saat ditemui di Wonosari.
Bupati Endah juga menyoroti pentingnya pemeriksaan kesehatan ternak secara berkala. Pihaknya telah melakukan pengecekan di posko lalu lintas ternak yang ada di Bedoyo, Ponjong, dan Ngawen. Namun, ia mengakui bahwa pemeriksaan kesehatan hewan secara detail belum sepenuhnya terlaksana. Kasus antraks di Gunungkidul ini telah menarik perhatian Kementerian Pertanian, yang berkomitmen untuk memberikan dukungan dalam upaya pengendalian dan pencegahan.
Selain pembatasan lalu lintas ternak, pemerintah daerah juga menekankan pentingnya menjaga kebersihan kandang. Kondisi kandang yang kurang bersih, di mana ternak tidur berdekatan dengan kotorannya, menjadi salah satu faktor risiko penyebaran antraks. Oleh karena itu, sosialisasi dan edukasi kepada peternak terus digencarkan.
Seluruh pasar hewan di Gunungkidul akan disterilisasi secara rutin sebelum dibuka kembali. Proses vaksinasi dan sterilisasi melibatkan seluruh tenaga dokter hewan yang ada di wilayah tersebut. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul juga telah memberikan antibiotik kepada ratusan ekor ternak di Girisubo dan Rongkop. Tercatat 248 ekor kambing dan 130 ekor sapi telah mendapatkan penanganan medis.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul, Wibawanti Wulandari, menjelaskan bahwa pihaknya telah melaksanakan kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) secara serentak di seluruh kalurahan di Rongkop, Girisubo, serta wilayah-wilayah yang pernah terpapar antraks sebelumnya. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai antraks dan cara pencegahannya.
"Apabila terjadi kematian ternak, masyarakat bisa segera menghubungi puskeswan setempat atau melapor kepada petugas. Kami juga sudah menyiapkan peraturan daerah untuk memberikan tali asih kepada pemilik ternak yang mati karena antraks," terang Wibawanti.
Data terbaru menunjukkan bahwa 26 hewan ternak mati akibat antraks di Kalurahan Bohol, Kapanewon Rongkop, dan Kalurahan Tileng, Kapanewon Girisubo. Selain itu, tiga orang dinyatakan positif antraks dan dua orang lainnya berstatus suspek. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul terus berupaya keras untuk menekan penyebaran antraks dan melindungi kesehatan masyarakat serta hewan ternak.
Upaya penanggulangan antraks meliputi:
- Pembatasan lalu lintas ternak di Rongkop dan Girisubo
- Penyemprotan disinfektan dan vaksinasi
- Pengecekan di posko lalu lintas ternak
- Sterilisasi pasar hewan
- Pemberian antibiotik kepada ternak
- KIE kepada masyarakat
- Penyiapan tali asih untuk pemilik ternak yang mati karena antraks